Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2024

Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

Secepat itu Kita Mengeluh?

Gambar
Tepat bulan Mei kemarin.  Kegelisahan itu datang tanpa permisi, menyelinap di sela-sela langkah saat menghadapi kesulitan. Rasanya seperti ada beban yang tak terlihat, menekan dada, membuat napas terasa sesak. Pikiran berlarian tanpa arah, memutar berbagai kemungkinan buruk, seolah dunia berhenti mendengar suara harapan. Aku bertanya-tanya, mengapa hidup tak pernah berjalan mulus? Mengapa selalu ada tantangan yang menghadang, apa ini menguji batas kemampuanku? Kala itu dokter berkata bahwa suamiku harus segera opname karena sakit demam berdarah dan typus. Oke terdengar hanya penyakit yang tidak serius. Tapi ini rawat inap perdana sejak kami menikah. Entah mengapa  itu sudah membuatku buyar seakan banyak permasalahan yang harus kuhadapi. Mengurus administrasi rawat inap, mengurus anak, bolak balik rumah, rumah sakit, dan sekolah. Kulakukan sendirian, karena ada di perantauan, jauh dari saudara/keluarga dan tentunya gak mau merepotkan tetangga. So, hectic banget sampai kayaknya ...

Pecahan Kaca dan Sebuah Refleksi Keimanan

Gambar
  "PYARRR" Suara pecahan kaca terdengar tajam, memecah keheningan di tengah keramaian. Di hadapanku, tumbler beling seorang anak terjatuh, isinya tumpah, dan pecahan kaca tersebar di lantai. Anak seusia SD itu tampak kebingungan, berdiri di antara kepingan-kepingan tajam itu, sementara orang-orang dewasa di sekelilingnya tetap sibuk dengan aktivitas mereka, seolah tidak terjadi apa-apa. Aku menunggu, berharap seseorang akan bertindak. Tapi tidak ada yang bergerak. Detik demi detik berlalu, dan aku merasa seperti satu-satunya yang sadar bahwa ini adalah situasi berbahaya. Anak itu bisa terluka. Orang-orang yang lalu-lalang bisa terinjak pecahan kaca. Apa iya aku juga harus bersikap sama seperti mereka? Membiarkan kaca berserakan atau memanggil cleaning servis untuk membersihkan? Rasa frustrasi mulai merayap dalam diri. "Kenapa tidak ada yang peduli?" pikirku. Akhirnya, aku menghela napas dan mengambil langkah maju, menyusuri lantai yang berserakan pecahan. Aku memint...