Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2024

Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

Pusaran Arus Negatif

Gambar
"Eh, sebel deh, aku gak suka ama sikap si X itu, dia sok cantik, sok pinter, sok suci, eh pelit senyum lagi, malesin banget," Jika kalimat itu terdengar oleh diriku yang belum mengenal si X sama sekali, biasanya aku akan menganggap bahwa karakter si X itu emang nyebelin, dan branding si X sok cantik itu bisa terpatri dalam mindset aku. Ehmmmmm ini nih bisa masuk dalam pusaran arus negatif. Bahaya ngga sih? Mari kita ulas. Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali terjebak dalam aliran pemikiran negatif yang menghasilkan prasangka buruk terhadap orang lain. S aat kita ngomongin keburukan orang maka kita akan tesedot dalam arus negatif sehingga mindset kita sudah terlanjur buruk terhadap orang yang disebutkan tadi padahal kita belum mengenal lebih dalam. Pemikiran-pemikiran ini dapat muncul dari pengalaman pribadi yang tidak menyenangkan, pengaruh lingkungan sekitar, atau bahkan dari kondisi emosional dan psikologis yang tidak stabil. Misalnya, contoh di atas. Atau kita mung...

Berhenti Mengikuti

Gambar
Ada seorang kerabat (bukan artis/selebgram) yang berpendapat, bahwa dia merasa insecure ketika jumlah pengikutnya lebih sedikit daripada jumlah yang diikuti. Lalu karena sedikit terpengaruh, aku mencoba memfilter lagi, akun mana yang perlu aku unfollow agar tidak terlihat timpang antara yang mengikuti dan pengikut. Selain menganut paham kerabatku tadi, aku juga merasakan dampak yang kurang bermanfaat ketika melihat sebuah postingan orang-orang yang tak kukenal, atau yang tak berfaedah bagi diriku. Terlebih akun-akun artis. Mengikutinya hanya membuatku seakan gila dengan kemewahan dunia, sehingga bawaannya baper, lupa bersyukur dan berujung sensi tingkat tinggi.  Jadi, untuk menjaga kewarasan ini, maaf, aku berhenti mengikuti. Siapa sih yang gak punya akun sosial media? Ehmm aku rasa mayoritas manusia di bumi ini memilikinya. Bahkan yang belum mencapai batas umur minimal ada sudah ada yang punya. Di era seperti saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-ha...

Insecure Ketika Memberi

Gambar
Pernah nggak kepikiran kayak gini, "Kalau aku ngasih ini nanti dia terima ngga ya?" Trus ketika ada tamu, "Apakah yang kuhidangkan itu selevel ama lifestyle/selera dia?"  Sementara, menjamu dan memuliakan tamu adalah wajib bagi kaum muslim. Bukankah begitu? Lho kok Bisa? Ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan perasaan insecure saat memberi adalah: Perasaan tidak layak : Seseorang mungkin merasa tidak layak atau tidak cukup baik untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Ini bisa berasal dari rendahnya rasa percaya diri atau penghargaan diri yang rendah. Takut ditolak atau dinilai negatif : Takut ditolak atau takut mendapatkan tanggapan negatif dari penerima dapat menyebabkan ketidaknyamanan saat memberi. Seseorang mungkin khawatir bahwa apa yang mereka berikan tidak akan dihargai atau tidak memenuhi harapan orang lain. Perbandingan sosial : Perasaan insecure juga dapat timbul karena membandingkan diri dengan orang lain. Jika seseorang merasa bahwa...

Pandai Mengukur, Lupa Bersyukur

Gambar
“ Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ” (QS An-Nisa [3]: 32) Jalan masing-masing manusia itu berbeda-beda. Wajar bukan jika kenikmatan yang didapatkan pun berbeda? Dari Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ “ Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu .” (HR. Muslim, no. 2963) Dal...