Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

[CERPEN] Gara-Gara Bopo (Bagian 3)

Gambar
Cerita Sebelumnya Hari masih pagi, Sachi kembali ke kostnya berganti pakaian, dan pergi ke perpustakaan kampus untuk melengkapi referensi. Menapaki semester akhir ini memang hal yang tak bisa di anggap enteng. Dia masih menyimpan rasa dag dig dug kalau-kalau nanti Jojo bersikap ketus lagi. Pertemuan pertama dengannya tempo hari menyisakan trauma yang luar biasa. Belum pernah sebelumnya dia mendapat perlakuan ketus dari seorang lelaki. Kalau bukan karena demi lulus tepat waktu, rasanya mustahil mau bertemu. Jam tangan Sachi sudah menunjuk pukul 14.54. Masih ada sisa waktu kurang lebih 1 jam untuk bersiap menemui Jojo. Mengingat jarak kampus dan rumah makan milik Jojo cukup jauh, dia segera berkemas. Namun memorinya kembali terganggu, dia lupa belum menanyakan tempat ketemuannya. Mengingat bahwa dulu Jojo pernah berpesan bahwa dia tidak mau ditemui di restorannya, dengan alasan tidak mau terganggu pekerjaannya. Sachi segera mengambil ponselnya dan menelepon Raka. Lama tak ada...

[CERPEN] Gara-Gara Bopo (Bagian 2)

Gambar
Cerita Sebelumnya “Nak, kamu kenapa kok wajahnya kayak gak pernah disetrika?” “Akung, apaan sih. Emang baju?” “Iya, kusut.” Kakeknya terkekeh, sementara Sachi masih tetap dengan ekspresi semula. “Aku nggak jadi melakukan riset gara-gara terlambat ketemu bosnya si pemilik restoran, Kung.  Orangnya galak, judes kaya harimau yang siap menerkam mangsanya. ” “Maaf, pasti gara-gara jemput Akung ya, kamu jadi kehilangan kesempatan tugas pentingmu.” “Ya, nggak gitu, Kung. Bagiku Akung juga penting,” Sachi lalu memeluk kakeknya. Kakeknya yang selalu disebut akung itu tersenyum tulus dan membalas pelukan cucu semata wayangnya. Sudah hampir 3 tahun dia tidak mendapatkan pelukan seperti ini, terakhir mereka berpelukan saat melepaskan kepergiannya untuk melanjutkan kuliah di Yogya. “Apa yang bisa kakek perbuat untuk membantu tugas akhirmu ini, Nak?” Sachi hanya menggelengkan kepala dia juga bingung. “Kalau narasumber kamu susah diajak kerja sama ganti tempat peneliti...