Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

Tak Mewah Tak Berarti Susah




Punya sepeda bagus tentu menjadi impian bagi anak yang kesehariannya naik sepeda ke sekolah. Begitulah diriku. Ketika menginjak SMP, aku memutuskan untuk menempuh perjalanan 3 km dari rumah ke sekolah dengan bersepeda. Keputusan itu juga atas restu orang tua dengan pertimbangan efisiensi uang dan waktu. Hemat.

“Mending ngepit wae Rin, nek numpak bus ra cucok, rung sido lungguh andang wis tekan,” ujar Emak. Zaman dulu belum ada gojek, dan orang tua tidak bisa mengantar jemput setiap hari. Memang benar aku naik bus itu cuma sebentar, padahal jauh dekat tarifnya sama. Namun sebagian teman-temanku banyak yang memilih untuk berangkat naik kendaraan umum itu.

Dengan berbekal sepeda hitam bekas (bekasnya kakak) aku mengayuh sepeda itu melewati jalanan yang terjal dan tanjakan. Lelah? Iya tentu. Apalagi sepeda ini sudah tua, onderdilnya sudah pada aus.

Buruknya lagi, sampai sekolah keringatan. Tapi nggak papa lah kata Emak itu sehat. Oke deh, aku nurut. Coba aja punya sepeda baru yang keren dan onderdilnya lebih bagus. Pikiran itu selalu terbesit di benakku.

Melihat kegigihan anaknya yang rajin ke sekolah dengan naik sepeda, sepertinya membuat Emak tersentuh. Beliau akhirnya membelikan sepeda baru. Sepeda mini warna biru metalik keluaran terbaru, dengan keranjang di depannya membuat kesan semakin manis. Tau nggak perasaanku waktu itu? Uhhh seneng bangeettt! Jadi semakin semangat berangkat sekolah.

Tapi ternyata kebahagiaan itu tidak berangsur lama. Rasa bangga memiliki sepeda baru berubah menjadi kecemasan yang membuat hati merana. Bagaimana tidak, sepedaku jatuh tertimpa sepeda lain sehingga membuat keranjangnya peyok. Hiruk pikuk padatnya suasana tempat parkiran seusai bubar sekolah mengancam keamanan sepeda baruku itu.

Hari berikutnya, perasaanku tambah kacau. Dinamo lampu sepeda raib. Duh, rasanya pengen jitak kepala tuh orang yang ngambil. Tapi sayangnya pelakunya siapa, aku tidak tahu. Mau lapor ke guru, duh kok kayaknya gak elit banget. Gak ada bukti pula. Mengetahui hal itu, Emak pun menyayangkan kenapa ada yang usil dengan sepeda baruku. Yang jelas sepeda itu jadi nggak sekeren dulu ketika masih baru.

“Ganti pit sik ireng wae, Mak,” putusku.

Ya, akhirnya aku kembali ke sekolah dengan sepeda bekas yang dulu pernah kupakai. Malah lebih nyaman. Aku nggak perlu khawatir lagi. Sepeda baru malah bikin was-was. Pelajaran di sekolah jadi tidak tenang. Dan ternyata, tak mewah itu tak selamanya susah.

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan