Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

Tak Mewah Tak Berarti Susah




Punya sepeda bagus tentu menjadi impian bagi anak yang kesehariannya naik sepeda ke sekolah. Begitulah diriku. Ketika menginjak SMP, aku memutuskan untuk menempuh perjalanan 3 km dari rumah ke sekolah dengan bersepeda. Keputusan itu juga atas restu orang tua dengan pertimbangan efisiensi uang dan waktu. Hemat.

“Mending ngepit wae Rin, nek numpak bus ra cucok, rung sido lungguh andang wis tekan,” ujar Emak. Zaman dulu belum ada gojek, dan orang tua tidak bisa mengantar jemput setiap hari. Memang benar aku naik bus itu cuma sebentar, padahal jauh dekat tarifnya sama. Namun sebagian teman-temanku banyak yang memilih untuk berangkat naik kendaraan umum itu.

Dengan berbekal sepeda hitam bekas (bekasnya kakak) aku mengayuh sepeda itu melewati jalanan yang terjal dan tanjakan. Lelah? Iya tentu. Apalagi sepeda ini sudah tua, onderdilnya sudah pada aus.

Buruknya lagi, sampai sekolah keringatan. Tapi nggak papa lah kata Emak itu sehat. Oke deh, aku nurut. Coba aja punya sepeda baru yang keren dan onderdilnya lebih bagus. Pikiran itu selalu terbesit di benakku.

Melihat kegigihan anaknya yang rajin ke sekolah dengan naik sepeda, sepertinya membuat Emak tersentuh. Beliau akhirnya membelikan sepeda baru. Sepeda mini warna biru metalik keluaran terbaru, dengan keranjang di depannya membuat kesan semakin manis. Tau nggak perasaanku waktu itu? Uhhh seneng bangeettt! Jadi semakin semangat berangkat sekolah.

Tapi ternyata kebahagiaan itu tidak berangsur lama. Rasa bangga memiliki sepeda baru berubah menjadi kecemasan yang membuat hati merana. Bagaimana tidak, sepedaku jatuh tertimpa sepeda lain sehingga membuat keranjangnya peyok. Hiruk pikuk padatnya suasana tempat parkiran seusai bubar sekolah mengancam keamanan sepeda baruku itu.

Hari berikutnya, perasaanku tambah kacau. Dinamo lampu sepeda raib. Duh, rasanya pengen jitak kepala tuh orang yang ngambil. Tapi sayangnya pelakunya siapa, aku tidak tahu. Mau lapor ke guru, duh kok kayaknya gak elit banget. Gak ada bukti pula. Mengetahui hal itu, Emak pun menyayangkan kenapa ada yang usil dengan sepeda baruku. Yang jelas sepeda itu jadi nggak sekeren dulu ketika masih baru.

“Ganti pit sik ireng wae, Mak,” putusku.

Ya, akhirnya aku kembali ke sekolah dengan sepeda bekas yang dulu pernah kupakai. Malah lebih nyaman. Aku nggak perlu khawatir lagi. Sepeda baru malah bikin was-was. Pelajaran di sekolah jadi tidak tenang. Dan ternyata, tak mewah itu tak selamanya susah.

Komentar

Popular Posts

Ketika Tren Ramadan dan Lebaran Menjadi Bumerang

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan

Tak Apa Jika Pencapaian Kita Berbeda