Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

Gak Kebayang Bisa Nampang di Majalah Dinas Kebudayaan DIY

Sampai saat ini, kayaknya aku masih malu dibilang penulis. Kalau definisi penulis adalah orang yang setiap hari menulis, ya aku bisa disebut itu. Kalau penulis adalah orang yang memproduksi tulisan hingga mendapatkan penghasilan, ya aku bisa disebut itu. Kalau penulis adalah orang yang pekerjaanya memang bersumber utama dari hasil tulisan. Ehmm aku belum memilih itu.


Sampai akhirnya aku menulis hanya ketika dihadapkan dengan event-event. Baru deh aku membuat tulisan. Masalah tulisanku bermanfaat atau tidak sebenarnya aku tak tahu, karena itu biar menjadi penilaian publik.


Contohnya tulisanku yang dimuat di majalah desa budaya ini. Awalnya aku diminta untuk mengikuti lomba menulis essay mewakili desaku dalam event lomba desa budaya. Walau endingnya aku belum membuat bangga desaku, hiks.

Oh ya, betewe  sebagian masyarakat yang udah mengenalku, memang membranding diriku sebagai penulis. Yaaahh walau sebenernya aku masih insecure tauu. Mereka yang melabeli diriku sebagai penulis, mereka yang sudah berekspektasi pada profesi ini, sementara realitanya aku belum bisa memberikan yang terbaik, terkadang itu menjadi beban mental.


Tapi, terlepas dari semua itu, aku akan terus belajar, aku akan terus berbenah, aku akan terus mencoba untuk menjadi lebih baik. Dan aku sangat berterimakasih kepada mereka yang sangat mengapresiasi karya-karyaku.


Sungguh, ketika tahu tulisanku dimuat di sini, aku seperti merasa menjadi sesosok yang sangat "dihargai". Sungguh. Beneran.


So rasanya amazing, tulisanku bisa mejeng di majalah ini.
Sekali lagi, aku sangat berterimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penerbitan majalah ini.


Jazakumullah khairan katsiran. Terimakasih semuanya. Doakan ya, aku tetep bisa berkarya.

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan