Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

Benarkah Manusia Bisa Berubah?

Benarkah manusia bisa berubah? Ide judul ini tercetus saat aku membaca buku "Berani Tidak Disukai" yg ditulis oleh Ichiro Kishimi & Funitake Koga. 
Buku ini merupakan buku self improvment yang cukup menduduki peringkat atas dan banyak peminatnya. Sudah pasti banyak yang membaca dan apabila apa yang aku tulis ini ada kekurangan mohon disempurnakan.

Dalam buku tersebut diutarakan bahwa ada dialog antara dua orang, si suhu dan si junior yang beradu pendapat ttg perubahan sikap manusia.

Benarkah manusia bisa berubah? Ya si suhu mengatakan bahwa benar. Contohnya saat kita sedang marah sama anak, lalu tiba-tiba bos kita telepon, kita bisa langsung ramah berbicara dengan si bos. Bener gak?? Atau ada yang pernah ngerasain juga?

Nah, kebetulan banget baru-baru ini aku juga lagi menyelesaikan baca buku ini. Ehmm oh iya buku ini dipinjam dari Perpustakaan Daerah Kota Jakarta yang terletak di Cikini, jadi orang-orang menyebutkan Perpus Cikini. Kebetulan ada temen yang minjem dan aku ikutan deh minjem bukunya. Karena ini cumi (cuma minjem) maka aku berusaha untuk bisa segera menyelesaikannya. Ini salah satu keuntungan kalau kita minjem buku. Beda ya kalau buku punya sendiri, ah entar aja bacanya, toh juga gak bakal kemana-mana dan ujungnya gak jadi baca juga😁
Oke. Kembali ke masalah utama. Benarkah manusia berubah? Yups, bukan hanya dari buku yang pertama saja, tapi dari buku yang bersampul kuning juga.

Ada beberapa insight yang ingin aku utarakan. Bukan karena aku sok tahu, tapi aku hanya ingin mencatat untuk diriku sendiri, dan apabila ada orang lain yang membaca yang bisa mengambil manfaatnya, tentu senang rasanya.

Pentingnya komitmen dalam mengubah diri

Yang dimaksud proses berubah dalam hal ini adalah berubah menjadi lebih baik.  Tanpa komitmen semua rencana perubahan hanya akan menjadi sampul depan. Tanpa komitmen tidak ada yang akan sampai ke tujuan dan hanya akan terbawa arus dan tenggelam.

Perubahan memang tidak mengenakkan karena keluar dari zona nyaman. Karena terlalu nyaman di zona yang telah ditinggali, perubahan seakan menjadi momok yang harus dihindari. Jika saat proses berubah kita merasa tidak nyaman, maka sebenarnya perubahan itu sudah mulai bekerja. Ingat, syarat perubahan adalah meninggalkan zona nyaman.

Pengaruh Lingkungan
Sering risau dengan penilaian orang?Merasa bahwa justifikasi menurunkan harga diri?

Nilai diri kita tidak ditentukan oleh seberapa hebat yang kita kerjakan apalagi berdasarkan omongan. Mungkin benar pekerjaan yang mencapai keberhasilan akan mendatangkan kepuasan. Akan tetapi itu bukan kebahagiaan. Harga diri hanya bertolok ukur seberapa sukses kita, seberapa menawan kita, seberapa kita disukai, itu adalah harga diri yang semu.

Terakhir ada quotes yang mungkin udah fenomenal sebelumnya, tapi bagiku ini memang perlu aku sematkan lagi di sini 

Watch your thought; they become words
Watch yout word; the become actions
Watch your actions; they become habbits
Watch your habits; they become character
Watch your character; it become your destiny

~Lao-Tze~



Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan