Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

Mau Sarapan Apa?


Menu andalan sarapan orang sini kalau gak nasi uduk ya bubur ayam. Eh tapi ada juga yang suka sarapan roti, soto, nasi kuning, dan banyak lagi. Tapi kalau kami masih memilih tipe sarapan yang apa adanya aja. Ya maksudnya kalau ada bubur ya makan bubur, kalau ada nasi ama telor yang makan itu, ya adanya apa😀

Ehmmm ngomong-ngomong soal bubur jadi ingat serial sinetron tukang bubur naik haji. Meski banyak penjual bubur, baik keliling atau di lapak, mereka kayak udh punya pelanggan masing-masing. 
Atmoster perekonomian di sini memang jauh banget kalau dibandingkan dengan di Yogya, atau tepatnya di kampung halaman kami. 

Ceritanya, hari Sabtu ini aku sama Salman libur, ga sekolah, tapi berbeda dengan si Ayah. Kadang kalau udah libur bawaannya emak pengen males-malesan ajah. Dan kemalasan ini sangat didukung oleh bakul-bakul yang ada di sekitar perumahan kami. Mau makan apa? Tinggal bilang, keluarin dompet, beres deh. Nasi kuning/uduk cuma 5rb, bubur cuma 8ribu. Alhamdulillah sangat tertolong.

Saat Ayah keluar rumah mau berangkat, si mas bubur tanya ke Salman, "kok Ayahmu gak libur, Man?" Kebetulan mas bubur ini juga tinggal di kompleks kami jadi udah hafal dg nama Salman. 
"Iya, Ayah kerja, nyari duit," jawab Salman
"Wah, enak banget ya Man, ayahmu yang nyari duit, kamu yang ngabisin duitnya,"
"Iyalah biar bisa beli bubur,"

Dan aku yang mendengar percakapan ikut ketawa. 

Udah sampai di sini aja ceritanya. Makasih ya sudah mampir🙏😊

Komentar

Popular Posts

Ketika Tren Ramadan dan Lebaran Menjadi Bumerang

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan

Tak Apa Jika Pencapaian Kita Berbeda