Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

Mau Sarapan Apa?


Menu andalan sarapan orang sini kalau gak nasi uduk ya bubur ayam. Eh tapi ada juga yang suka sarapan roti, soto, nasi kuning, dan banyak lagi. Tapi kalau kami masih memilih tipe sarapan yang apa adanya aja. Ya maksudnya kalau ada bubur ya makan bubur, kalau ada nasi ama telor yang makan itu, ya adanya apa😀

Ehmmm ngomong-ngomong soal bubur jadi ingat serial sinetron tukang bubur naik haji. Meski banyak penjual bubur, baik keliling atau di lapak, mereka kayak udh punya pelanggan masing-masing. 
Atmoster perekonomian di sini memang jauh banget kalau dibandingkan dengan di Yogya, atau tepatnya di kampung halaman kami. 

Ceritanya, hari Sabtu ini aku sama Salman libur, ga sekolah, tapi berbeda dengan si Ayah. Kadang kalau udah libur bawaannya emak pengen males-malesan ajah. Dan kemalasan ini sangat didukung oleh bakul-bakul yang ada di sekitar perumahan kami. Mau makan apa? Tinggal bilang, keluarin dompet, beres deh. Nasi kuning/uduk cuma 5rb, bubur cuma 8ribu. Alhamdulillah sangat tertolong.

Saat Ayah keluar rumah mau berangkat, si mas bubur tanya ke Salman, "kok Ayahmu gak libur, Man?" Kebetulan mas bubur ini juga tinggal di kompleks kami jadi udah hafal dg nama Salman. 
"Iya, Ayah kerja, nyari duit," jawab Salman
"Wah, enak banget ya Man, ayahmu yang nyari duit, kamu yang ngabisin duitnya,"
"Iyalah biar bisa beli bubur,"

Dan aku yang mendengar percakapan ikut ketawa. 

Udah sampai di sini aja ceritanya. Makasih ya sudah mampir🙏😊

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan