Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2022

Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

Bekal Makanan Sehat Ala Aku

Gambar
Hari ini ada agenda makan bersama di sekolah si dia. Sebelumnya bu guru sudah memberitahukan bahwa anak-anak disuruh membawa bekal makanan sehat, dan akan dibagi-bagi ke temen-temennya. Hari sebelumnya, saat dapat info itu, aku berdiskusi dengannya. "Besok mau bawa makanan apa, Sal?" tanyaku. "Terserah ibuk aja, aku ngikut ibuk," jawabnya. "Kalau ubi kukus gimana?" tanyaku lagi "Oke," jawabnya singkat kemudian aku mulai hunting di warung-warung. Oke, ubi sudah dapat, dan pagi tadi 2 buah ubi dengan ukuran lumayan besar kukupas dengan penuh ketulusan. Kupotong-potong dengan kekuatan ekstra, lalu kukukus dengan seksama. Setelah dingin kumasukkan ke wadah bekal dan berangkatlah sekolah dengan riang. Tapi keriangan itu tak dirasa saat waktu pulang tiba. Saat melihat dia meletakkan wadah bekal yang kusiapkan tadi pagi, aku auto ngecek lagi. Dan, amazing, barisan potongan ubi tampak masih tertata sama seperti tadi pagi. "Ibuk, ...

Pengalaman Ikut Bakti Sosial di Bulan Ramadan

Gambar
  Kemarin, Ramadan ke 20, dia ikut baksos di sekolah. Sebuah moment yang cukup berharga buatnya, karena kesempatan ini tidak dimiliki oleh semua anak, hanya perwakilan saja dan dia yang mewakili kelas 1. Oke dari sini ia boleh bangga, deh. Acara selesai pukul 5 sore, tapi Ayahnya bisanya menjemput ba'da maghrib, karena kebetulan beliau juga ada tugas baksos di sekolahnya. Wah kebetulan banget sih jadwal anak dan ayah bisa kompak gini, hihi. Karena tak bisa jemput tepat waktu maka dia main di sekolah sembari menunggu buka puasa di sana. Tau ga sih, emak sampai nyecroli semua story nya Mr/Ms guru2, mungkin aja ada penampakan dirinya. Lama, tak ketemu. Sampai akhirnya entah karena takdir kali ya, ketemu video seorang Mr, dia sedang duduk dekat meja sembari memegang makanan yang tadi ibuk siapkan untuk buka di sana. Ya ampun, terimakasih ya anak sholeh bunda.

Hati Tetap Tenang, Menjalani Takdir-Nya

Gambar
Hujan deras mengguyur sore ini, bertepatan dengan waktu pulang. Suami sudah datang menjemput kami. Tapi sayang, anak-anak di perpustakaan masih asyik bercengkrama dan beberapa dari mereka belum dijemput. Alhasil, aku juga tak bisa langsung pulang begitu saja, apalagi hujan semakin deras. Derasnya aliran air seakan menyerang pintu masuk gedung perpustakaan. Ada lubang air yang terpasang dekat area taman, jalur aliran itu bersebelahan dengan deretan s epatu dan sandal para wali murid yang pada berteduh di teras perpustakaan. Karena saking asyiknya bercanda dan mengobrol sampai tak ada yang menyadari bahwa sepatu, dan sandal-sandal mereka hanyut masuk ke dalam saluran air.  Aku yang sudah terbiasa dengan pola hujan seperti ini, langsung mengecek keadaaan sepatu/sandal yang ada di luar. Satu hal kebiasaan mereka adalah memang begitu masuk sepatu/sandal langsung dilepas begitu aja tanpa diletakkan di rak yang telah disediakan. Sayang, aku sudah terlambat. Aku tak bisa berbua...