Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

Sepele Dadi Gawe

Hanya karena sebuah informasi.



Hanya karena informasi, seorang pengangguran bisa dapat kerjaan
Hanya karena informasi, seorang bisa lulus kuliah dengan biaya murah
Hanya sebuah informasi, seorang pedagang jadi laris dan kebanjiran orderan

Hanya karena sebuah informasi seorang bisa dapat pekerjaan yang bergengsi.

Bagi pemberi informasi itu hanya hal yang ringan malah bisa dibilang sepele  Eh ternyata imbasnya bisa mempengaruhi keberlangsungan hidup seseorang.

Pernah ngalamin?

Kalau aku sendiri sering mengalaminya.
Makanya aku bangga bisa kuliah di juruan informasi, eh lebih tepatnya nama jurusannya Ilmu Perpustakaan dan Informasi. 

Yups, perpustakaan memang menjadi wadah untuk menyimpan segala jenis buku yang di dalamnya terkandung berbagai macam ilmu. Alur penerimaan sebuah ilmu iutu berawal dari sebuah data yang diolah menjadi informasi lalu menjadilah sebuah pengetahuan. Yah singkatnya sih gitu. Maklum udah lulusan lama, jadi beda jauh lah ya sama yang fresh graduate.

Oke, aku mau cerita terkait beberapa informasi yang terlihat sepele namun berdampak besar dalam hidupku.

Awal tahun 2021, aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku dan ikut pindah bersama suami karena ditempatkan di luar Jogja. Menjadi full mother emang enak, pikiran lebih tenang, bisa leluasa mendampingi anak, rebahan di rumah sepuasnya, mengantar suami kerja sampai depan pintu dan menantinya pulang dengan penuh harapan membawa oleh-oleh, ihh ada yang samaan? hahaha.

Tapi, tiba-tiba pikiranku bergejolak. hampir 2 bulan di rumah aja gak ada kerjaan kantoran membuatku gabut tingkat dewa. Setiap hari rebahan sambil nyecroll-nyecroll medsos. So, aku kangen kerja. Dan Alhamdulillah suami selalu mendukung apa keinginanku. Akhirnya, seorang pemilik rumah yang kami tempati itu mengabarkan bahwa sekolah tempat anaknya membutuhkan seorang pustakwan. Langsung deh aku bikin lamaran, samperin ke sekolah, dipanggil wawancara lalu mulai kerja dengan gaji yang jauh banget dari ekspektasi. Lebih gede berkali-kali lipat dengan kerjaanku sebelumnya.

Sampai sini, aku udah kayak ga bisa ngomong banyak lagi. Kayak speaclessh gitu, jalur informasi yang kudapat ini tentu tak lepas dari campur tangan Allah. Karena segala hal yang kita pandang hanya sepele (misal hanya sebuah info) itu juga kalau Allah tidak berkehendak maka tidak akan terjadi. 

Sampai di sini aja, celotehku hari ini. Betewe makasih banyak udah mampir dna mau memebaca. 

Tau gak sih, aku tuh selalu lega kalau udah berceloteh kayak gini. Tunggu celotehku berikutnya ya

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan