Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

Tidak Mengurusi Perpustakaan, Katanya.


Sebagai pustakawan, aku sangat percaya bahwa perpustakaan adalah jantung dari sebuah ekosistem literasi di sekolah. Bukan hanya sekadar tempat menyimpan buku, perpustakaan adalah ruang hidup, tempat tumbuhnya gagasan, kreativitas, dan kecerdasan para siswa. Maka, wajar jika aku berharap semua elemen sekolah, terutama para guru, memiliki perhatian yang besar terhadapnya. Namun, suatu hari aku berbincang dengan seorang teman—seorang guru yang kukagumi karena kompetensinya yang luar biasa. Dia adalah figur yang dikenal sebagai guru penggerak, sosok yang sering digadang-gadang sebagai inspirasi dalam memajukan pendidikan. Dengan penuh rasa ingin tahu, aku bertanya kepadanya tentang perpustakaan di sekolahnya. Namun, alih-alih mendapat jawaban yang bersemangat atau refleksi mendalam, dia malah berkata dengan santai, “Bagaimana apanya? Aku tidak mengurusi perpustakaan.”

Jawaban itu membuatku tercekat. Aku tidak tahu apa yang lebih menohok—apakah nada seolah-olah perpustakaan itu tidak penting, atau fakta bahwa dia menganggap urusan perpustakaan bukanlah sesuatu yang relevan baginya sebagai guru. Sejenak aku terdiam, merenungkan makna di balik jawabannya. Mungkinkah dia merasa bahwa mengurusi perpustakaan adalah tugas yang berada “di bawah levelnya” sebagai guru yang sibuk? Atau mungkin dia benar-benar tidak peduli dengan keberadaan perpustakaan? Lebih buruk lagi, mungkinkah dia bahkan tidak pernah menginjakkan kaki ke sana?

Pikiranku semakin kalut karena ini bukan sekadar soal perpustakaan. Ini soal literasi, soal kesadaran akan pentingnya akses ilmu pengetahuan bagi siswa. Seorang guru penggerak, idealnya, adalah figur yang memahami dan mendukung penuh ekosistem literasi di sekolah, termasuk perpustakaan. Tapi bagaimana mungkin seseorang bisa disebut penggerak jika tidak memiliki kepedulian terhadap hal yang mendasar seperti ini? Apakah gelar dan citra sebagai guru penggerak hanya sebatas slogan, tanpa aksi nyata yang mencerminkan tanggung jawab tersebut?

Bagiku, perpustakaan bukan hanya bangunan berisi rak buku. Perpustakaan adalah ruang penuh makna, tempat ide-ide besar bersemai. Jika perpustakaan saja tidak dipedulikan oleh seorang guru, apalagi guru yang dijuluki penggerak, maka bagaimana kita bisa berharap siswa akan melek literasi? Bagaimana pendidikan di sekolah bisa benar-benar bermakna jika bahkan sosok yang seharusnya menjadi teladan tak menunjukkan minat untuk menjadikan perpustakaan sebagai bagian integral dari kehidupan sekolah? Pertanyaan-pertanyaan ini terus bergema di benakku, mengusik hati kecilku yang berharap suatu hari semua elemen pendidikan benar-benar memandang perpustakaan sebagai pusat peradaban kecil di lingkungan sekolah.


Komentar

Popular Posts

Ketika Tren Ramadan dan Lebaran Menjadi Bumerang

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan

Tak Apa Jika Pencapaian Kita Berbeda