Mohon Dikoreksi, tapi Jangan Bilang Aku Salah
Ada satu jenis percakapan yang belakangan terasa melelahkan. Seseorang meminta pendapat. “Mohon koreksinya, ya.” Setelah dikoreksi, ternyata tidak terima kalau dianggap salah. “Mohon kritik dan sarannya.” Ketika kritik dan saran diberikan, malah sibuk mencari pembenaran. Lalu, untuk apa bertanya kalau yang sebenarnya diharapkan hanyalah persetujuan? Atau hanya basa basi template? Aku mulai merasa bahwa tidak semua orang yang meminta pendapat benar-benar ingin mendengar pendapat orang lain. Sebagian mungkin hanya ingin diyakinkan bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar. Sebagian lagi ingin mendapat pujian, tetapi membungkusnya dengan kalimat yang terdengar terbuka terhadap masukan. Tentu saja, tidak semua kritik otomatis benar. Kritik juga bisa keliru, disampaikan dengan cara yang buruk, atau bahkan lahir dari prasangka. Kita berhak mempertanyakan pendapat orang lain. Kita boleh tidak setuju. Namun, bukankah ada perbedaan antara mempertimbangkan sebuah kritik dan buru-buru menolaknya ...