Mohon Dikoreksi, tapi Jangan Bilang Aku Salah
Ada satu jenis percakapan yang belakangan terasa melelahkan.
Seseorang meminta pendapat.
“Mohon koreksinya, ya.”
Setelah dikoreksi, ternyata tidak terima kalau dianggap salah.
“Mohon kritik dan sarannya.”
Ketika kritik dan saran diberikan, malah sibuk mencari pembenaran.
Lalu, untuk apa bertanya kalau yang sebenarnya diharapkan hanyalah persetujuan? Atau hanya basa basi template?
Aku mulai merasa bahwa tidak semua orang yang meminta pendapat benar-benar ingin mendengar pendapat orang lain. Sebagian mungkin hanya ingin diyakinkan bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar. Sebagian lagi ingin mendapat pujian, tetapi membungkusnya dengan kalimat yang terdengar terbuka terhadap masukan.
Tentu saja, tidak semua kritik otomatis benar. Kritik juga bisa keliru, disampaikan dengan cara yang buruk, atau bahkan lahir dari prasangka. Kita berhak mempertanyakan pendapat orang lain. Kita boleh tidak setuju.
Namun, bukankah ada perbedaan antara mempertimbangkan sebuah kritik dan buru-buru menolaknya hanya karena kritik itu tidak sesuai dengan apa yang ingin kita dengar?
Bagiku, meminta kritik berarti bersedia memberi ruang bagi kemungkinan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Bukan berarti harus menelan semua pendapat mentah-mentah, melainkan bersedia memeriksa diri sebelum sibuk membela diri.
Sayangnya, percakapan sering kali berakhir menjadi drama yang itu-itu lagi.
Orang menyampaikan pendapat, lalu orang lain merasa tersinggung. Orang memberikan saran, lalu dianggap tidak memahami keadaan. Pada akhirnya, orang yang memberikan masukan justru dituntut untuk memahami perasaan orang yang sejak awal meminta masukan.
Bukankah melelahkan?
Aku tidak sedang mengatakan bahwa kita harus menjadi manusia yang kebal kritik. Aku pun mungkin masih belajar menerima hal-hal yang tidak menyenangkan tentang diriku sendiri. Tidak ada yang benar-benar nyaman ketika kekurangan kita ditunjukkan.
Namun, setidaknya kita bisa belajar membedakan antara merasa tidak nyaman dan merasa diserang. Sebab, tidak semua hal yang membuat kita tersinggung memang dimaksudkan untuk menyakiti kita.
Dan tidak semua orang yang mengoreksi kita sedang berusaha merendahkan kita.
Ada kalanya mereka justru sedang melakukan sesuatu yang kita minta: menunjukkan bagian yang tidak kita lihat sendiri.
Mungkin karena itu, aku mulai bosan dengan basa-basi yang hanya terdengar baik di permukaan. Kalimat-kalimat seperti “Mohon masukannya,” “Aku terbuka terhadap kritik,” atau “Jangan sungkan mengoreksi” kehilangan makna ketika pada akhirnya orang lain tetap harus berhati-hati, memilih kata berkali-kali, bahkan merasa perlu meminta maaf hanya karena menyampaikan pendapat yang berbeda.
Seolah-olah kritik boleh diberikan, asalkan tidak membuat siapa pun merasa tidak nyaman. Saran boleh disampaikan, asalkan tetap berakhir dengan pembenaran. Kejujuran boleh hadir, asalkan tidak mengusik ego.
Lantas, di mana ruang untuk percakapan yang sungguh-sungguh?
Aku lebih menghargai seseorang yang sejak awal berkata, “Aku sedang butuh didengarkan, bukan diberi solusi,” daripada seseorang yang meminta saran, tetapi kemudian kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang diharapkan.
Setidaknya, kita sama-sama tahu sedang berada dalam percakapan seperti apa.
Sebab, tidak setiap persoalan membutuhkan koreksi. Ada kalanya seseorang hanya membutuhkan teman untuk mendengarkan. Dan itu tidak salah. Yang melelahkan adalah ketika kita meminta satu hal, tetapi mengharapkan hal lain, lalu menyalahkan orang lain karena tidak mampu membaca keinginan yang tidak pernah kita ungkapkan.
Pada akhirnya, aku pikir, kedewasaan bukan tentang selalu menerima kritik atau selalu menganggap diri salah. Kedewasaan adalah kesediaan untuk berhenti sejenak, memeriksa apa yang disampaikan, lalu memutuskan dengan jernih bagian mana yang memang perlu diperbaiki.
Kita tidak harus menyetujui semua pendapat orang lain. Namun, kita juga tidak perlu menjadikan setiap perbedaan pendapat sebagai drama yang menuntut orang lain memahami kita.
Kalau memang belum siap menerima kritik, tidak apa-apa. Katakan saja bahwa kita sedang membutuhkan dukungan, bukan evaluasi.
Tetapi, jika kita meminta kejujuran, berilah ruang bagi orang lain untuk jujur.
Jangan meminta cermin, lalu marah ketika cermin itu menunjukkan sesuatu yang tidak kita sukai.
Sebab, meminta pendapat itu mudah. Yang tidak selalu mudah adalah menerima kemungkinan bahwa kita memang perlu berubah.

Komentar
Posting Komentar