Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

Nikmati Proses, Kurangi Protes

Bulan ini masih bernuansa kemerdekaan kan ya. Betewe tema kemerdekaan tahun ini cucok banget utk diriku. Tangguh dan tumbuh. 
Sudah lama rasanya bumi kita prihatin atas musibah yang menimba. Oh corona.

Oh iya ngomong-ngomong aku belum pernah mengulas tentang corona di blog ini. Padahal sudah hampir 2 tahun kita menghadapinya. Ahh ini aku yang keterlaluan terlena sampai lupa menuliskannya, atau memang aku tak mau membahas itu?? 

Ehmm...memang sih adanya corona ini menuai banyak pemahaman. Oke, tapi aku gak mah bahas soal banyaknya pemahaman itu. Hanya saja aku mau mengulas soal pendapatku saja, meskipun pendapatku pasti ada yang gak setuju.

Eh ngomong-ngomong tentang "ketidak setujuan", bukan cuma soal corona, kadang pemikiran yang lain, ada juga yang menentang. Yaahh namanya juga hidup di dunia. Ada banyak manusia, ada banyak akal dan pikiran mereka ya wajar saja. Aku toh juga gak mungkin bisa menjadi apa yang mereka mau kan ya. Yang mungkin bisa dilakukan ialah "menerima". (mengulas lagi di potingan sebelumnya)

Yups, "Nrimo". Terdengar simple. Tapi susah pada praktiknya. Bayangkan saja, apa mudah kita menerima begitu saja pemberlakuan pembatasan sosial yang setiap periode diperpanjang???
Apa mudah kita menerima, anak-anak gak sekolah, gak ketemu gurunya, belajar ngabisin kuota, yang pada akhirnya bikin mereka kecanduan gadget??

Apa mudah menerima? para karyawan yang dirumahkan? Apa mudah menerima? para pengusaha yang kehilangan banyak omset bahkan ada yang bangkrut? Lalu apa mudah menerima mereka yang kehilangan keluarga tercinta yang terenggut nyawanya karena melawan corona??? Apa mudah?

Tidak. Kurasa itu tidak mudah. Tapi, apa yang bisa kita lakukan selain "nrimo" itu tadi??

Terlepas ada konspirasi atau bukan, penderitaan yang dialami masyarakat Indonesia ini tak lepas dari kuasa Allah SWT. Sebagai orang yang beriman tentu kita udah percaya bahwa apa yang terjadi di dunia ini tak pernah lepas dari ketentuan-Nya. Perbanyak bersyukur tentunya. So, sekarang saatnya kita menikmatinya, kurangi protesnya. 

Mungkin tulisan ini tak mengandung solusi. Tapi jika ada yang bersedia mampir ke sini, ini sungguh apresiasi. Akhir kata, terima kasih sudah membaca :)

Komentar

Popular Posts

Ketika Tren Ramadan dan Lebaran Menjadi Bumerang

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan

Tak Apa Jika Pencapaian Kita Berbeda