Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri
Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.”
Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan.
Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim).
Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa.
Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita.
Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya.
Lebih menyedihkan lagi, ketika kita terlalu sibuk melihat kekurangan orang lain, kita perlahan kehilangan waktu untuk melihat kekurangan diri sendiri.
Padahal, kita pun punya banyak hal yang seandainya diketahui orang lain mungkin akan membuat kita malu. Hanya saja Allah masih berkenan menutupinya.
Ada dosa-dosa yang tidak diketahui siapa pun. Ada kesalahan yang hanya kita dan Allah yang tahu. Ada bagian dari diri kita yang bahkan tidak ingin kita ceritakan kepada orang terdekat.
Maka, rasanya tidak pantas jika kita begitu mudah membuka kekurangan orang lain, sementara kita sendiri masih meminta kepada Allah agar aib kita ditutup rapat-rapat.
Mungkin sesekali kita perlu berhenti sebelum ikut dalam sebuah percakapan. Bukan untuk merasa paling suci. Justru sebaliknya, karena sadar bahwa diri ini juga jauh dari sempurna.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Kalau orang yang sedang dibicarakan ada di sini, apakah aku masih berani mengatakannya?
Kalau cerita tentang diriku diperlakukan dengan cara yang sama, apakah aku akan baik-baik saja?
Dan kalau suatu hari Allah membuka aibku sebagaimana aku membuka aib orang lain, apakah aku siap?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu mungkin bisa menjadi rem bagi lidah.
Sebab menjadi baik bukan berarti tidak pernah salah. Menjadi baik adalah ketika kita semakin sadar dengan kesalahan sendiri dan tidak merasa perlu menjadikan kesalahan orang lain sebagai bahan percakapan.
Muhasabah bukan berarti terus-menerus menyalahkan diri. Bukan pula membuat kita merasa tidak layak mendapatkan ampunan Allah. Sebaliknya, menyadari aib sendiri seharusnya membuat hati lebih lembut.
Kita tahu pernah salah, maka kita belajar memaafkan. Kita tahu pernah jatuh, maka kita tidak tergesa-gesa menghakimi orang lain. Kita tahu masih banyak yang harus diperbaiki, maka energi kita lebih banyak digunakan untuk memperbaiki diri daripada mencari-cari cela orang lain.
Bukankah hidup sudah cukup sibuk dengan urusan diri sendiri? Ada ibadah yang perlu diperbaiki. Ada hati yang perlu dibersihkan. Ada hubungan yang perlu dibenahi. Ada janji yang harus ditepati. Ada ilmu yang belum dipelajari. Ada dosa yang perlu ditaubati.
Kalau semua itu kita urus dengan sungguh-sungguh, barangkali kita tidak akan punya banyak waktu untuk mengurusi aib orang lain.
Dan hari ini, menjaga lisan juga tidak cukup hanya dengan menjaga apa yang keluar dari mulut.
Jari-jari kita pun perlu dijaga.
Sebab ghibah bisa berpindah tempat: dari obrolan di ruang tamu ke grup percakapan, dari bisik-bisik menjadi komentar, dari cerita lisan menjadi unggahan story.
Kadang kita tidak menyebut nama. Tetapi orang-orang tahu siapa yang dimaksud.
Kadang kita tidak menuliskan keburukannya secara terang-terangan. Tetapi kita sengaja membuat orang lain menebak.
Tetap saja, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa aku membagikan ini?
Tidak semua yang benar harus disebarkan. Tidak semua yang kita tahu harus diceritakan. Dan tidak semua yang membuat kita kesal harus menjadi konsumsi orang lain.
Barangkali kedewasaan bukan hanya tentang semakin banyak hal yang kita ketahui, tetapi juga semakin banyak hal yang mampu kita tahan untuk tidak dikatakan.
Pada akhirnya, kita semua sedang berjalan menuju akhir yang sama. Sama-sama membawa amal. Sama-sama membawa dosa. Sama-sama berharap Allah mengampuni kesalahan yang tidak diketahui manusia.
Maka daripada sibuk menghitung aib orang lain, mungkin lebih baik kita menghitung kekurangan diri sendiri.
Daripada memperpanjang cerita tentang kesalahan seseorang, lebih baik memperpanjang doa untuk diri kita sendiri.
Semoga Allah menjaga lisan kita dari perkataan yang menyakiti, menjaga jari-jari kita dari tulisan yang menjadi dosa, dan menjaga hati kita dari merasa lebih baik daripada orang lain.
Dan semoga, sebagaimana kita berharap Allah menutup aib kita, kita pun belajar menutup aib saudara kita.
Sebab bisa jadi, orang yang hari ini kita bicarakan keburukannya, justru sedang berjuang memperbaiki diri.
Dan bisa jadi, orang yang hari ini kita anggap penuh kekurangan, kelak justru lebih dekat kepada Allah daripada kita.
Jadi, jangan sampai terlalu sibuk melihat aib orang lain sampai lupa memperbaiki diri.

Komentar
Posting Komentar