Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

[CERPEN] Gara-Gara Bopo (Bagian 1)


Lelaki berkemeja hijau telur asin itu tampak tak bersemangat mengaduk secangkir kopi panas yang tersaji di depannya. Matanya menatap ke arah jendela. Seakan sedang menanti sesorang. Diliriknya jam tangan lalu diikuti helaan napasnya memberat. Seperti sudah tidak ada daya lagi menunggu sesuatu yang sudah tidak pasti. Diambilnya selembar uang dari dompet yang terselip di saku belakang celananya. Lalu dia berdiri. Bersiap meninggalakan secangkir kopi yang belum sedikitpun dia seruput.

“Mas Jojo, ya?” Tiba-tiba gadis berjilbab dusty pink muncul dari belakangnya dengan napas yang masih terengah-engah. Lelaki yang disebut namanya itu hanya menatapnya tajam.

“Oh, jadi kamu Sachi?” ucap Jojo masih dengan ekspresi datar.

“Benar. Maaf, terlambat, sudah membuat Mas menunggu ya,”

Gadis itu lalu mengambil kursi dan merogoh secarik kertas yang sebuah pulpen dari dalam tas jinjingnya. Lelaki itu masih menatap dengan tatapan khasnya.

“Apa bisa kita mulai sekarang?” ucap Sachi pada lelaki berhidung mbangir yang masih berdiri di depannya.

“Tidak akan pernah mulai!” Ucapan lelaki itu membuat Sachi terkesiap. Dia tidak menyangkan jika perkataan itu akan terdengar di telinganya.

“Maksud, Mas Jojo?”

“Dua puluh menit menunggu, sudah bisa menjadikanku jawaban bahwa melanjutkan dengan orang seperti itu hanya akan membuang waktuku saja.”

“Maaf, karena tadi saya harus menjemputku kakek saya dulu di bandara.”

“Itu bukan urusanku!” tegas lelaki itu, lalu pergi meninggalkan Sachi. Sachi lalu mengejar punggung bidang Jojo. Sampai akhirnya beradu di parkiran.

“Tunggu sebentar,  saya mohon pengertian dari Mas Jojo. Saya mohon maaf.” Jojo hanya diam, lalu membuka pintu mobilnya.

“Lalu kapan saya bisa mewawancarai Mas Jojo lagi?”

“Silakan hubungi Raka!” Jojo lalu menutup pintu dan Mazda 6 Facelift berwarna silver itu langsung meluncur meninggalkannya.

BERSAMBUNG

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan