Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

[CERPEN] Mon, Ayo Move On.

“Mon, minggu depan, gue mau nikah, loe harus dateng,ya. Kirimin alamat lengkap sama contact loe dong, biar gampang kalau mau kirim undangan.”

Email dari Johan mengusik pagiku. Ternyata itu pesan yang dia kirim sejak 2 minggu yang lalu.

Segera kubalas email itu dengan mengirim alamat dan nomer hp dan kuakhiri dengan pertanyaan tanggal pelaksanannya. Ternyata dia sedang on, email balasannya langsung masuk.

“Ada apa Mon?” seloroh Yaya, teman sekantorku, "serius banget mantengin laptop?”

“Email dari Johan,”

“What? Tumben? Ada angin apa?”

“Minggu depan dia mau nikah,” jawabku tak bersemangat.

Aku tidak membayangkan jika secepat itu dia mendapatkan jodoh. Sedangkan aku, mantannya dulu, masih konsisten dengan kesendirian ini. Pikiranku jadi melayang ke masa enam bulan silam. Saat kami masih bersama, menjalin sebuah asmara khas anak remaja. Namun sayang, itu dulu. Sekarang dia sudah akan menyunting gadis pilihannya.

“Apa? Johan mau nikah? Kapan?”

“Tanggal 30,”

“Bulan ini?” tanya Yaya lagi. Aku mengangguk

“Ciyus?” Sepertinya dia juga surprise mendengar berita ini.

“Iya, coba deh lihat, nih emailnya.” Aku menggeser layar PC-ku ke arah wajahnya. Yaya menoleh sebentar. Manik matanya menyapu seluruh layar, lalu tertawa terbahak-bahak. Aku terperanjat mendengar kelakar Yaya.

“Loe ngetawain gue karena dia dah dapet jodohnya, secara gue belum, gitu?” jawabku mulai emosi. Yang lebih nyebelin lagi, ekspresi dia masih cengengesan.

“Mona Maimunah, sohibku yang cantik, loe begok banget sih, mana ada tanggal 30 Februari. Gak bakal ada!” tegasnya. Seketika gue gondok banget. Memperhatikan lagi email Johan dan mulai berpikir tenang. Benar juga apa yang dibilang Yaya.

“Shiitt, berarti dia bohongin gue!” teriakku.

“Ehh, gak mesti juga, mungkin dia salah ketik?” Lalu dia tertawa lagi. Emosiku kembali teraduk. Terlepas dari perkataan Yaya, aku nyesel banget dah balesin emailnya. Bodo amat dia mau nikah atau enggak. Mau nikah sama siapa, terserah. Aku nggak boleh baper. Mon, Mon, ayo move on.

Bersambung.

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan