Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

[CERPEN] Mon, Ayo Move On.

“Mon, minggu depan, gue mau nikah, loe harus dateng,ya. Kirimin alamat lengkap sama contact loe dong, biar gampang kalau mau kirim undangan.”

Email dari Johan mengusik pagiku. Ternyata itu pesan yang dia kirim sejak 2 minggu yang lalu.

Segera kubalas email itu dengan mengirim alamat dan nomer hp dan kuakhiri dengan pertanyaan tanggal pelaksanannya. Ternyata dia sedang on, email balasannya langsung masuk.

“Ada apa Mon?” seloroh Yaya, teman sekantorku, "serius banget mantengin laptop?”

“Email dari Johan,”

“What? Tumben? Ada angin apa?”

“Minggu depan dia mau nikah,” jawabku tak bersemangat.

Aku tidak membayangkan jika secepat itu dia mendapatkan jodoh. Sedangkan aku, mantannya dulu, masih konsisten dengan kesendirian ini. Pikiranku jadi melayang ke masa enam bulan silam. Saat kami masih bersama, menjalin sebuah asmara khas anak remaja. Namun sayang, itu dulu. Sekarang dia sudah akan menyunting gadis pilihannya.

“Apa? Johan mau nikah? Kapan?”

“Tanggal 30,”

“Bulan ini?” tanya Yaya lagi. Aku mengangguk

“Ciyus?” Sepertinya dia juga surprise mendengar berita ini.

“Iya, coba deh lihat, nih emailnya.” Aku menggeser layar PC-ku ke arah wajahnya. Yaya menoleh sebentar. Manik matanya menyapu seluruh layar, lalu tertawa terbahak-bahak. Aku terperanjat mendengar kelakar Yaya.

“Loe ngetawain gue karena dia dah dapet jodohnya, secara gue belum, gitu?” jawabku mulai emosi. Yang lebih nyebelin lagi, ekspresi dia masih cengengesan.

“Mona Maimunah, sohibku yang cantik, loe begok banget sih, mana ada tanggal 30 Februari. Gak bakal ada!” tegasnya. Seketika gue gondok banget. Memperhatikan lagi email Johan dan mulai berpikir tenang. Benar juga apa yang dibilang Yaya.

“Shiitt, berarti dia bohongin gue!” teriakku.

“Ehh, gak mesti juga, mungkin dia salah ketik?” Lalu dia tertawa lagi. Emosiku kembali teraduk. Terlepas dari perkataan Yaya, aku nyesel banget dah balesin emailnya. Bodo amat dia mau nikah atau enggak. Mau nikah sama siapa, terserah. Aku nggak boleh baper. Mon, Mon, ayo move on.

Bersambung.

Komentar

Popular Posts

Ketika Tren Ramadan dan Lebaran Menjadi Bumerang

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan

Tak Apa Jika Pencapaian Kita Berbeda