Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

[CERPEN] Mon, Ayo Moven On (Bagian 2)

Cerita sebelumnya Bagian 1

Aku masih kepikiran email Johan. Tidak hanya emailnya, tepatnya, kenangan-kenangan yang telah tertoreh selama cinta itu masih terjalin. Hampir lima tahun kami bersama menjalani suka dan duka.

Dulu, pertama bertemu, saat pesta sederhana ulang tahun Yaya, yang hanya dihadiri oleh keluarga Yaya, aku dan Johan, sobat dekat Bang Feri, abangnya Yaya. Karena tahu , HP Johan bagus, Bang Feri menyuruhnya menjadi juru foto. Dengan tangkas dan terlihat profesional, Johan menangkap setiap moment kebersamaan keluarga itu. Termasuk ada aku di dalam foto yang diambilnya.

“Kak, nanti kirimin, ya,” ucapku sepontan pada Johan. Karena penasaran dengan hasil foto-fotonya. Padahal kita belum saling kenal.

“Oke, share no wa aja,” Lalu aku menyebut nomerku dan dia langsung save sembari bertanya siapa namaku. Berawal dari situ akhirnya kita menjadi lebih akrab dan selalu kontak. Aku kagum dengan lelaki berparas sederhana tetapi memukau itu. Dia pribadi yang selalu ceria dan gokil. Ternyata selera kita sama. Kuliah di jurusan yang sama, di kampus yang sama, hanya saja, kami beda tingkat. Meski wajahnya tekesan dingin tapi dia selalu bisa membuatku tersenyum. Dia selalu rutin menghubungiku. Mengajak jalan, nonton, dan sampe akhirnya kita tahu, bahwa kita sama-sama suka.

Tiba-tiba handphoneku berderit. Satu pesan dari nomer baru masuk ke whatsappku.

“Mon,”

Aku bingung, siapa pengirim pesan itu. Jempolku langsung mengarah pada profil, tapi sayangnya tidak tertera nama dan foto. Aku enyahkan saja. Pikirku pasti hanya orang gak penting yang iseng godain. Sepuluh menit kemudian muncul lagi pesan dari nomer yang sama.

“Mon Mon Monkey.” Aku kaget. Sembarangan banget orang kirim pesan ini. Ingin kubalas dan kucaci maki tapi enggak jadi setelah kuteringat pesan itu. Pesan yang sama selalu dilayangkan oleh seseorang dan hanya orang itu satu-satunya yang berani bilang seperti itu.

“Johan?” balasku.

Lalu muncul emot tertawa ngakak darinya. Aku membalas dengan emotion geram.

“Apa kabar, Mon?”

“Buruk.”

“Kok bisa?”

“Gara-gara elu,”

“Gue akan memperbaikinya.”

“Maksud loe?”

“Jam 5, gue tunggu di kafe biasa, ya.”

dan setelah itu tidak ada percakapan lagi. Aku pun tidak membalas pesan terakhirnya. Aku tenggelam dan hanyut bersama pikiran yang kalut.

Bersambung

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan