Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

[CERPEN] Gara-Gara Bopo (Bagian 2)


Cerita Sebelumnya

“Nak, kamu kenapa kok wajahnya kayak gak pernah disetrika?”

“Akung, apaan sih. Emang baju?”

“Iya, kusut.” Kakeknya terkekeh, sementara Sachi masih tetap dengan ekspresi semula.

“Aku nggak jadi melakukan riset gara-gara terlambat ketemu bosnya si pemilik restoran, Kung. Orangnya galak, judes kaya harimau yang siap menerkam mangsanya.”

“Maaf, pasti gara-gara jemput Akung ya, kamu jadi kehilangan kesempatan tugas pentingmu.”

“Ya, nggak gitu, Kung. Bagiku Akung juga penting,” Sachi lalu memeluk kakeknya. Kakeknya yang selalu disebut akung itu tersenyum tulus dan membalas pelukan cucu semata wayangnya. Sudah hampir 3 tahun dia tidak mendapatkan pelukan seperti ini, terakhir mereka berpelukan saat melepaskan kepergiannya untuk melanjutkan kuliah di Yogya.

“Apa yang bisa kakek perbuat untuk membantu tugas akhirmu ini, Nak?”

Sachi hanya menggelengkan kepala dia juga bingung.

“Kalau narasumber kamu susah diajak kerja sama ganti tempat penelitian saja.” Saran Kakek Sachi ada benarnya, hanya saja, gadis berpipi cubby itu masih ragu jika harus ganti objek penelitian maka harus ganti judul lagi. Ini hal yang sulit, mengingat bahwa dosen pembimbingnya sudah terlanjur menyetujui dan berharap banyak pada hasilnya nanti.

“Pengaruh bubur kelor dalam menunjang kesadaran masyarakat agar rajin mengkonsumsi sayuran ini sangat prospekting, Sachi. Kamu harus menyelesaikan penelitian ini dengan sempurna. Bapak sangat berharap kamu dapat memberikan hasil terbaik untuk jurusan kita nanti,” ucapan Pak Bisma, dosen pembimbingnya selalu terpatri dalam pikiran Sachi.

                          ***

Hari telah berganti, Sachi kembali mengemasi barang-barangnya. Disapukan semua pandagannya ke arah sudut kamar, memastikan tak ada barang penting yang tertinggal, lalu bersiap menghubungi Raka. Berharap ada sebuah keajaiban sehingga Jojo mau ditemui.

“Mau kemana, Nak?” tanya Akung saat Sachi keluar dari kamarnya.

“Melanjutkan penelitian, Kung.”

“Perlu, Akung temani?”

Sachi menggeleng cepat. Dia tidak mau kakeknya ini terlibat dalam permasalahannya.

“Segera hubungi Akung, ya kalau butuh sesuatu. Dan jangan lupa ke sini lagi.”

Setelah berpamitan, Sachi pergi meninggalkan rumah penginapan yang telah disewa akungnya selama sepekan.

“Mas Jojo bisa ditemui jam empat sore nanti. Jangan sampai terlambat lagi.” Pesan WhatsApp dari Raka membinarkan mata Sachi.  

BERSAMBUNG


Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan