Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

Like and Dislike

Kata like and dislike ini mengingatkanku pada chanelku. Ehh iya yang belum subscribe boleh deh meluncur ke youtube "Ririn Kada"

Jadi entah pas ada insiden apa, ini pertama kalinya video di youtube dapat dislike. 😭😭😭

Konon katanya, ini berawal dari temen Salman yang emang mungkin lagi marahan kali ya, trus mengklik tombol πŸ‘Ž
Nyebelin ga sih, yang berantem siapa yang kena imbasnya siapa.🀦

Huuhhh dia mah pas critanya biasa aja. Tapi si emak, wuaaaaa kecewaa paraahh. Ih tega bener sih tuh temennya main dislike. Kan bikin pamor chanelku menurun. Ehmm ya walau belum monetise sih. Masih ecek2 ya emang wajar.

Dan kita emang harus siap untuk tidak disukai, seperti yang di bahas dalam buku ini, nih.

Teman-teman udah baca bukunya?
Boleh deh sharing. πŸ€—

Jadi, aku tuh seneng banget pas dapat buku ini. Yups, aku beli langsung di gramedia officialnya. So, pastinya buku ini ori. Jujur, aku pernah nyesel karena kebodohannku pernah beli buku via online, yang ternyata tuh buku cuma copian. Ya Allah, harga yang memang selisih banyak itu kayaknya gak ada apa-apanya jika dibanding beli barang bajakan. Buku bajakan itu bad banget. Astaghfirullah. Ya Allah ampunilah hamba-Mu ini🀲🀲🀲

Oke, lanjut ngomongin isi bukunya. Pada bab pertama, kita akan disambut dengan sebuah dialog antara pemuda dan seorang filsuf. Lalu di halaman selanjutnya ternyata formatnya sama bentuk dialog gitu, dan seterusnya. Wah buku ini memang unik. Jadi kita bacanya kayak melihat sebuah obrolan gitu. Kan jadi ga membosankan. Eh sebenernya tujuan utama tulisanku bukan review buku sih, hanya aku mau mengambil hikmah. Yups, tepatnya "belajar" mengambil hikmah. Bahwa di dunia ini memang gak mungkin semua orang menyukai kita. Kebalikannya, kita juga pernah kan ga menyukai orang, nah loh🀭.

Makanya hak-hak mereka lah kalau mau menyukai atau membenci kita. Tapi kalau saran yang baik sih, seberapa benci orang ke kita, ya kita harus tetap menjadi baik. 

Oke, sampai di sini dulu cuap-cuapku. Terimakasih sudah mampir.πŸ™

Komentar

Popular Posts

Ketika Tren Ramadan dan Lebaran Menjadi Bumerang

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan

Tak Apa Jika Pencapaian Kita Berbeda