Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

[CERPEN] Mon, Ayo Move On. (Bagian 3)


Cerita sebelumnya Bagian 2

Setelah melampaui pemikiran yang panjang semalaman, akhirnya aku memutuskan datang ke Goldian Kafe. Meja nomer 5, tempat favorit kami. Meja itu menghadap ke area persawahan. Pemandangan yang indah. Tapi itu dulu. Jujur, setelah putus dengan Johan, aku nggak pernah lagi ke tempat ini. Tau kan, sebabnya? Biar nggak keinget dia mulu. Hiks...

Perpisahan memang selalu meninggalkan luka. Ironisnya, luka ini aku yang ciptakan. Aku yang belum dewasa menjalani ini semua. Semenjak lulus kuliah dan dia diterima di sebuah perusahaan penerbitan, hubunganku dengan Johan tak seperti dulu. Dia sangat sibuk. Terlebih dengan sikap Johan yang selalu tidak peka dengan perasaanku. Memang bukan masalah orang ketiga, tapi aku selalu cemburu saat teman-teman kerjanya yang cewek begitu akrab dengannya. Mereka lebih tahu tentang Johan daripada aku. Johan lebih banyak menghabiskan waktu mereka saat mengerjakan proyek. Sementara, untuk bertemu denganku sangat susah.

“Kita tim, jadi memang harus kompak,” ucapnya saat aku mengeluhkan sikap rekan kerjanya.

“Tapi nggak harus sok akrab dan sok perhatian sama kamu gitu, kan!” protesku. Dia hanya menunduk terdiam. Bibir tipisnya mengatup rapat.

“Ya terserah mereka lah. Hak mereka. Yang penting, perhatian dan kasih sayangku cuma padamu,” ucapnya sambil mengaduk kopinya yang tinggal separuh. Tanpa melirikku, tanpa sentuhan tangan lembutnya, atau belaian yang mendarat di pipiku. Aku dongkol. Enteng banget dia bilang gitu. Sama sekali nggak menganggap aku ada disampingnya. Amarahku mencapai puncak titik didih dan aku memutuskan untuk berpisah. Sejak itu sudah tidak ada lagi sapaan “aku” dan “kamu” ataupun “sayang”. Nomernya kublokir dan dia tidak lagi mencariku. Meski aku masih menderita karena semua perasaan ini. Sampai akhirnya email itu muncul.

“Sudah lama menunggu?” Suara bariton itu membuyarkan lamunanku. Pemilik suara itu mengenakan kemeja flanel biru muda dengan rambut cepak berdiri di samping tempat dudukku.

“Boleh, duduk? lanjutnya. Aku hanya mengangguk sambil melemparkan senyum.

“Apa kabar?” tanyanya sambil melipat tangan di atas meja.

“Baik,” ucapku singkat. Terasa berat untuk berucap. Aku mendadak grogi menghadapinya. Dia semakin menawan dari yang kulihat enam bulan yang lalu.

“Sudah pesen?” tanyanya lagi dan aku menggeleng. Dia lalu membuka buku menu dan memilih-milih rentetan gambar makanan.

“Mana undangannya?” Kalimat itu tiba-tiba saja meluncur dari bibirku. Seketika dia melempar pandangannya ke wajahku. Sambil tersenyum.

“Orang mana? Teman kerja?” cecarku. Johan lalu menutup buku menu. Dia memandangiku lagi. Membuatku semakin salah tingkah.

Bersambung

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan