Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

[CERPEN] Mon, Ayo Move On. (Bagian 3)


Cerita sebelumnya Bagian 2

Setelah melampaui pemikiran yang panjang semalaman, akhirnya aku memutuskan datang ke Goldian Kafe. Meja nomer 5, tempat favorit kami. Meja itu menghadap ke area persawahan. Pemandangan yang indah. Tapi itu dulu. Jujur, setelah putus dengan Johan, aku nggak pernah lagi ke tempat ini. Tau kan, sebabnya? Biar nggak keinget dia mulu. Hiks...

Perpisahan memang selalu meninggalkan luka. Ironisnya, luka ini aku yang ciptakan. Aku yang belum dewasa menjalani ini semua. Semenjak lulus kuliah dan dia diterima di sebuah perusahaan penerbitan, hubunganku dengan Johan tak seperti dulu. Dia sangat sibuk. Terlebih dengan sikap Johan yang selalu tidak peka dengan perasaanku. Memang bukan masalah orang ketiga, tapi aku selalu cemburu saat teman-teman kerjanya yang cewek begitu akrab dengannya. Mereka lebih tahu tentang Johan daripada aku. Johan lebih banyak menghabiskan waktu mereka saat mengerjakan proyek. Sementara, untuk bertemu denganku sangat susah.

“Kita tim, jadi memang harus kompak,” ucapnya saat aku mengeluhkan sikap rekan kerjanya.

“Tapi nggak harus sok akrab dan sok perhatian sama kamu gitu, kan!” protesku. Dia hanya menunduk terdiam. Bibir tipisnya mengatup rapat.

“Ya terserah mereka lah. Hak mereka. Yang penting, perhatian dan kasih sayangku cuma padamu,” ucapnya sambil mengaduk kopinya yang tinggal separuh. Tanpa melirikku, tanpa sentuhan tangan lembutnya, atau belaian yang mendarat di pipiku. Aku dongkol. Enteng banget dia bilang gitu. Sama sekali nggak menganggap aku ada disampingnya. Amarahku mencapai puncak titik didih dan aku memutuskan untuk berpisah. Sejak itu sudah tidak ada lagi sapaan “aku” dan “kamu” ataupun “sayang”. Nomernya kublokir dan dia tidak lagi mencariku. Meski aku masih menderita karena semua perasaan ini. Sampai akhirnya email itu muncul.

“Sudah lama menunggu?” Suara bariton itu membuyarkan lamunanku. Pemilik suara itu mengenakan kemeja flanel biru muda dengan rambut cepak berdiri di samping tempat dudukku.

“Boleh, duduk? lanjutnya. Aku hanya mengangguk sambil melemparkan senyum.

“Apa kabar?” tanyanya sambil melipat tangan di atas meja.

“Baik,” ucapku singkat. Terasa berat untuk berucap. Aku mendadak grogi menghadapinya. Dia semakin menawan dari yang kulihat enam bulan yang lalu.

“Sudah pesen?” tanyanya lagi dan aku menggeleng. Dia lalu membuka buku menu dan memilih-milih rentetan gambar makanan.

“Mana undangannya?” Kalimat itu tiba-tiba saja meluncur dari bibirku. Seketika dia melempar pandangannya ke wajahku. Sambil tersenyum.

“Orang mana? Teman kerja?” cecarku. Johan lalu menutup buku menu. Dia memandangiku lagi. Membuatku semakin salah tingkah.

Bersambung

Komentar

Popular Posts

Ketika Tren Ramadan dan Lebaran Menjadi Bumerang

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan

Tak Apa Jika Pencapaian Kita Berbeda