Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

[CERPEN] Looking For You (Bagian 3)


Bagian 1 

Bagian 2


Mobil Bu Winda sudah sampai di sebuah gedung besar bercat putih. Ada plang besar menghadap jalan, bertuliskan “Rumah Sakit Jiwa Raflesia Indah”. Aku masih bertanya-tanya mengapa Bu Winda membawaku ke sini. Tanpa banyak bicara beliau langsung mengajakku masuk, menyusuri lorong panjang yang begitu mencekam. Tak ada orang lain yang berseliweran. Aku tahu, ini sudah sangat malam. Sepi. Memang saatnya mereka istirahat.

Akhirnya kami berhenti tepat di depan pintu kamar VIP, bertuliskan “Figo Omatsu Rahardi”. Aku langsung terperanjat. Jantungku seakan berhenti seusai membaca nama itu. Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang lelaki berjas hitam dengan mata sipit muncul dari balik pintu.

“Kamu, Mala, ya?” Lelaki itu menyalamiku dan senyumnya merekah indah. Membuat degub jantungku normal kembali.

“Terima kasih, kamu mau datang. Terima Kasih.” Ucapannya terdengar tulus. Dia memegang erat tanganku, mantap. Aku mencoba tersenyum walau sebenarnya masih bingung.

“Bagaimana keadaan, Figo?” Bu Winda membuka suara.

“Sudah tenang. Sekarang dia sedang tidur. Bagaimana kalau kita bicara di taman?” Lelaki itu menggiring kami ke tempat yang dituju. Dan di tempat itulah semua tanda tanyaku terjawab.

***

Lelaki itu adalah ayah Figo. Dua tahun yang lalu, ibunya meninggal dunia, karena bunuh diri. Perihal mengapa ibunya bunuh diri, aku tak mengerti. Naas sekali. Kejadian saat bunuh diri itu dilihat langsung oleh Figo. Sekuat tenaga, Figo mencegahnya, tapi ibunya nekat menusukkan pisau tepat di dadanya. Sontak Figo histeris, membuat terpukul dan psikologinya terganggu. Tak disangka ternyata peristiwa itu berdampak buruk pada kehidupan dia selanjutnya. Dia sempat di rawat di rumah sakit ini. Hampir setahun lamanya, dia dinyatakan sembuh, dan kembali menjalani aktivitas normal.

Dia mulai sekolah, homescholing dengan bimbingan Bu Winda. Sampai akhirnya dia bergabung di sekolahku, saat melihat fotoku di surat kabar tentang berita kemenangan lomba olimpiade. Katanya, wajahku mirip seperti ibunya.

Aku memang melihat Figo seperti cowok normal pada umumnya, tapi aku tidak menyangka jika kemudian jiwanya kembali terguncang saat melihat pisau.

“Mala, kamu nggak papa? Apa ada yang terluka?”

Kalimat itu selalu terucap dari mulut Figo setiap kali aku datang menjenguknya. Dan aku, akan terus menjenguknya sampai kalimat itu tak terucap lagi.

TAMAT

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan