Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

Kisah Seorang Menteri dan Anjing Raja



Alkisah seorang Raja  memiliki 10 anjing ganas untuk menghukum siapa pun yang bersalah.

Jika sang Raja marah maka orang yang salah akan dilempar ke kandang agar dicabik oleh anjing-anjing ganas tersebut.

Suatu hari seorang Menteri membuat keputusan salah.  Raja pun murka, maka diperintahkanlah agar sang Menteri dimasukkan ke kandang anjing ganas tersebut. Menteri berusaha minta maaf pada Raja.

“Paduka, saya telah mengabdi padamu selama 10 tahun, akankah Paduka tega menghukumku begini?" 

Namun, Raja tidak menghiraukan permohonan itu. Lalu menteri itu pun tetap bersikeras memohon lagi, "Paduka, atas pengabdianku selama ini saya hanya minta waktu penundaan hukuman 10 hari saja.” Ada setitik belas kasihan, Sang Raja pun mengabulkan permintaan terakhirnya.

Sang Menteri bergegas menuju kandang anjing-anjing ganas tersebut lalu meminta izin kepada penjaga untuk menggantikannya mengurus anjing-anjing ganas itu dan memberinya makan selama 10 hari.

“Untuk apa?” tanya penjaga.

“Setelah 10 hari nanti engkau akan tahu,” jawab Menteri.

Sejak hari itulah sang Menteri memelihara, mendekati, memberi makan bahkan akhirnya bisa memandikan anjing-anjing ganas tersebut selama 10 hari hingga menjadi sangat jinak padanya.

Setelah sepuluh hari berlalu, tibalah waktu eksekusi. Sang Raja menyaksikan sendiri saat Menteri dimasukkan ke kandang anjing, tetapi Raja kaget saat melihat anjing-anjing ganas itu justru jinak padanya.

Maka dia bertanya apa yg telah dilakukan Menteri pada anjing-anjing ganas tersebut?

“Saya telah mengabdi pada anjing-anjing ganas ini selama 10 hari, dan mereka tidak melupakan jasaku," jawab Menteri.

Terharulah Raja, meleleh air matanya lalu dibebaskanlah sang Menteri dari hukuman dan dimaafkan.

(Diceritakan kembali dari berbagai sumber)


Teman-teman, kisah tadi mungkin hanya fiktif belaka. Tapi kejadian serupa pernah kulihat sendiri dari orang-orang di sekitarku yang begitu teganya memperlakukan orang semena-mena. Ya, penyebabnya hanyalah tidak kemampuannya mengendalikan emosi. Banyak dari mereka yang mudah mengingkari dan melupakan kebaikan-kebaikan yang diterima dari orang-orang terdekatnya, hanya karena kejadian sesaat yang tidak mengenakkan. 

Jangan sampai kita sebagai manusia yang memiliki akal dan nurani bisa kalah dengan seekor anjing tadi.

Jangan mudah menghapus kenangan yang telah terukir dan persahabatan yang telah terjalin bertahun lamanya hanya karena hal-hal kecil yang kurang kita sukai darinya saat ini.
Mencari teman itu lebih mudah daripada mendapatkan sahabat.

Jagalah hubungan kekeluargaan dan persahabatan yang ada dengan baik karena menjaga memang jauh lebih sulit dari mendapatkannya. Dan satu hal lagi, tidak ada manusia yang sempurna. Mari terus belajar dan memperbaiki diri.

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan