Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

Apalah Aku





Aku Ririn. Begitulah orang-orang terdekat memanggilku. Meskipun nama itu tidak sesuai dengan akta kelahiran dan di identitas KTP, tapi nama itu sudah melekat erat pada diriku sejak aku lahir, pada puluhan tahun silam.

Tentang nama ini tentu membuat bingung orang-orang yang baru mengenalku. Ya, karena apalah aku? Artis bukan, kaya enggak, pinter juga enggak, cantik? emang iya? Ah, enggak juga. Tapi... Oke, aku jelaskan ya.

Secara official, namaku adalah Siti Kadarini. Orang tuaku memberi nama itu bukan tanpa alasan. Siti itu adalah nama emakku, dan Kada itu diambil dari nama ayahku Kadir. Sedangkan Rini, dalam bahasa jawa berarti anak perempuan. So, sudah jelas bukan, arti di balik nama asliku itu. Anak perempuan dari bapak Kadir dan Ibu Siti. Namun karena nama emakku sama dengan nama depanku, jadi orang tuaku memutuskan untuk memanggilku dengan panggilan RIRIN. Karena nggak lucu kan kalau dalam satu rumah, ketika ada yang manggil Siti, nanti aku dan emakku noleh semua. Hahaha.

Lalu, apakah Ririn itu bukan nama asli? Ya kalau asli adalah lawan dari palsu, maka Ririn jelas bukan nama palsu. Nama Ririn itu adalah pemberian asli dari orang tuaku. Tapi apakah aku menjadi satu-satunya Ririn di dunia ini? Tentu tidak, ada banyak Ririn di luar sana. Tapi aku harap, hanya ada satu nama yang tak akan kau lupa, Ririn Kada. (Haha ngarep).

Ya perkenalkanlah aku Ririn Kada. Seorang wanita muda (nggak mau disebut tua meski usia sudah semakin senja) yang selama ini mendedikasikan diri sebagai crafter, librarian and writer. Tahun 2013 silam, aku dilamar oleh seorang pangeran bernama Anjar Siswo Saputro, yang akhirnya membuatku menjadi ratu sehari. Setelah hari itu aku semakin bahagia dengan berbagai keanugerahan dari Allah SWT, seorang malaikat kecil yang sekarang semakin membesar, dialah Salman Tsaqib Anjar Saputra (namanya kuabadikan jadi brand usaha) semoga kelak bisa diberi amanah lagi sebagai aset yang tak ternilai harganya.

Menjadi pustakawan, penulis, dan pebisnis craft itu merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Jika ada satu yang dilepas, duh kacau deh, ibarat smartphone tanpa kuota data. Hahaha.

Sejak masih menduduki bangku kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Ilmu Perpustakaan (alasan aku menjadi pustakawan dan penulis, cerita panjangnya aku ceritakan di postingan selanjutnya ajah, ya) aku mulai merintis kerajinan tangan dari kain flanel. Aku suka dengan hal-hal yang berbau kreatifitas gitu. Dan seiring berjalannya waktu, tentu dengan alur sejarah yang berliku, akhirnya terbangunlah sebuah brand Salman Craft. Oh ya kalau mau lihat produk-produknya, atau mau nambah income dengan menjadi reseller, silakan kunjungi:

IG : @salmancraftshop
FP : Salman Craft Shop
WA: 081931742744


Dan untuk bersapa lebih lanjut secara pribadi kunjungi dan follow/add akun sosmedku ini ya:


FB : Ririn Kada
IG : @ririn _kada


Salam Bahagia.

Komentar

Popular Posts

Ketika Tren Ramadan dan Lebaran Menjadi Bumerang

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan

Tak Apa Jika Pencapaian Kita Berbeda