Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

Dua Kebaikan Si Penjual Sayur




Di tengah teriknya siang itu, aku tetap melaju bersama motor bututku. Kondisi mesin yang sudah tua membuat jalanku melambat. Menjadikan panas semakin menyengat. Namun harus kujalani, karena anakku sudah menanti.
Sepulang menjemput Salman dari sekolahnya, aku berhenti di sebuah kedai sayur sederhana. Hasratku teringat dengan Abu Salman yang ingin makan ikan asin. Segera kucari deretan ikan asin itu, kupilih yang bagus dan tentu yang paling murah. Saat asyik memilih-milih tiba-tiba terdengar celetukan suara seorang lelaki yang sedari duduk di depan kedai. Si penjual sayur.
“Kui adikke ya, Mbak?” ucapnya sambil memperhatikan Salman yang sedang duduk di jok motor.
“Nopo, Mas?” tanyaku sembari memastikan pendengaranku, takut salah dengar ketika dia menyebut “adik”.
“Niku adikke?” ulangnya.
“Anakku e niku, Mas!” ucapku sambil tertawa. Si Penjual sayur itu pun ikut tertawa seakan jawabanku itu sebuah candaan.
“Mosok sih, nek anakke njenengan?”
“Saestu, Mas.”
“Kok rung wangun nek niku putrane. Wong njenengan isih enom kok anakke wis gede semono.”
Aku hanya terkekeh, lalu menyerahkan ikan asin pilihanku yang harganya empat ribu rupiah kemudian mengambil dua buah tomat yang ada di keranjang bawah.
“Pun mas, niki pinten sedaya.”
“Sek Mbak, tomate tak timbange.” Si Penjual sayur itu langsung menaruh tomat e di atas timbangan
“kurang mbak tomate, digenepi ya,” lanjutnya, lalu mengambil lagi beberapa tomat dari keranjang yang sama.
“Karo iwakke kabeh limang ewu, Mbak,” ucapnya lagi sambil memasukkan belanjaanku ke dalam kantong plastik.
Aku menekuni isi dompetku lalu menyerahkan uang lembaran berwarna kuning bergambar Dr.K.H. Idham Chalid. Kemudian berpamitan dan bergegas pulang.
Sesampai di rumah, kubuka isi belanjaan. Baru kusadari jika tomat yang seharga seribu itu berisi sebanyak delapan buah. Padahal perkiraanku paling ya seribu dapat tiga atau empat biji. Sungguh girangnya hatiku. Si Penjual sayur itu sudah membuat hatiku terhibur dengan mengatakan bahwa aku terlihat muda, ditambah lagi dikasih harga tomat yang semurah ini. Yah, semoga saja dia tidak salah hitung.





Komentar

Popular Posts

Ketika Tren Ramadan dan Lebaran Menjadi Bumerang

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan

Tak Apa Jika Pencapaian Kita Berbeda