Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

Dua Kebaikan Si Penjual Sayur




Di tengah teriknya siang itu, aku tetap melaju bersama motor bututku. Kondisi mesin yang sudah tua membuat jalanku melambat. Menjadikan panas semakin menyengat. Namun harus kujalani, karena anakku sudah menanti.
Sepulang menjemput Salman dari sekolahnya, aku berhenti di sebuah kedai sayur sederhana. Hasratku teringat dengan Abu Salman yang ingin makan ikan asin. Segera kucari deretan ikan asin itu, kupilih yang bagus dan tentu yang paling murah. Saat asyik memilih-milih tiba-tiba terdengar celetukan suara seorang lelaki yang sedari duduk di depan kedai. Si penjual sayur.
“Kui adikke ya, Mbak?” ucapnya sambil memperhatikan Salman yang sedang duduk di jok motor.
“Nopo, Mas?” tanyaku sembari memastikan pendengaranku, takut salah dengar ketika dia menyebut “adik”.
“Niku adikke?” ulangnya.
“Anakku e niku, Mas!” ucapku sambil tertawa. Si Penjual sayur itu pun ikut tertawa seakan jawabanku itu sebuah candaan.
“Mosok sih, nek anakke njenengan?”
“Saestu, Mas.”
“Kok rung wangun nek niku putrane. Wong njenengan isih enom kok anakke wis gede semono.”
Aku hanya terkekeh, lalu menyerahkan ikan asin pilihanku yang harganya empat ribu rupiah kemudian mengambil dua buah tomat yang ada di keranjang bawah.
“Pun mas, niki pinten sedaya.”
“Sek Mbak, tomate tak timbange.” Si Penjual sayur itu langsung menaruh tomat e di atas timbangan
“kurang mbak tomate, digenepi ya,” lanjutnya, lalu mengambil lagi beberapa tomat dari keranjang yang sama.
“Karo iwakke kabeh limang ewu, Mbak,” ucapnya lagi sambil memasukkan belanjaanku ke dalam kantong plastik.
Aku menekuni isi dompetku lalu menyerahkan uang lembaran berwarna kuning bergambar Dr.K.H. Idham Chalid. Kemudian berpamitan dan bergegas pulang.
Sesampai di rumah, kubuka isi belanjaan. Baru kusadari jika tomat yang seharga seribu itu berisi sebanyak delapan buah. Padahal perkiraanku paling ya seribu dapat tiga atau empat biji. Sungguh girangnya hatiku. Si Penjual sayur itu sudah membuat hatiku terhibur dengan mengatakan bahwa aku terlihat muda, ditambah lagi dikasih harga tomat yang semurah ini. Yah, semoga saja dia tidak salah hitung.





Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan