Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

Perpustakaan Tanpa Pustakawan, Bagaikan Jantung Yang Tak Berdetak

Tidak sedikit masyarakat yang masih memandang sebelah mata tentang profesi seorang seorang pustakawan. Banyak di antara mereka yang beranggapan bahwa pustakawan hanyalah tukang penjaga buku, yang sering tidak diakui keberadaannya. Peran pustakawan dianggap kurang penting, bahkan jarang mendapat apresiasi dari masyarakat. Pustakawan dianggap sebagai profesi yang tidak bonafit dan tidak excelent. Hal ini mungkin sangat menyakitkan, terutama bagi mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan di bidang ilmu perpustakaan. Komentar yang tidak sedap perihal jurusan ilmu perpustakaan itu sendiri sering terdengar dari orang-orang terdekat seperti :

”Mau jadi apa kok kuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan?”
”Oh... ada to jurusan Ilmu Perpustakaan itu?”
”Oh... mau jadi tukang penjaga buku ya....”

Mereka yang beranggapan seperti itu mungkin belum sadar betul akan hakikat seorang pustakawan. Bahkan mungkin mereka belum mengenal atau belum mengetahui akan pentingnya perpustakaan itu sendiri, bahwa perpustakaan adalah jantung pendidikan. Berbeda halnya dengan Pemerintah, dalam UU No. 43 tahun 2007 telah menyebutkan bahwa kualifikasi untuk seorang pustakawan adalah mempunyai latar belakang pendidikan formal dalam bidang ilmu perpustakaan minimal D3. Pemerintah telah mengakui keberadaan akan pentingnya seorang pustakawan sebagai penyedia informasi yang tentunya dibutuhkan oleh setiap orang. Pustakawan berperan sebagai pointer jalannya masuk ke dalam gerbang ilmu pengetahuan. Pustakawan memanajemen sebuah sumber ilmu pengetahuan yang sangat potensial yaitu jantungnya pendidikan yang tak lain dan tak bukan adalah perpustakaan. Dengan demikian profesi menjadi seorang pusakawan bukanlah sembarang orang, dia tidak hanya sekedar menjaga buku semata, di dalam perpustakaan mempunyai bermacam-macam program yang berkenaan dengan pengembangan informasi dalam berbagai bidang kajian ilmu pengetahuan, dan semuanya itu diampu oleh pustakawan. Tidak kita sadari benar bahwa manfaat dari informasi dan ilmu pengetahuan yang selama ini kita dapat di dalam perpustakaan adalah hasil daya guna kompetensi seorang pustakawan. 

Himbauan bagi calon pustakawan yang saat ini sedang menempuh pendidikan ilmu perpustakaan tidak perlu berkecil hati, teruslah berjuang dan meningkatkan kualitas diri seorang pustakawan yang handal dan berdedikasi tinggi. Profesi menjadi pustakawan adalah tugas mulia. Perlu kita renungkan bahwa negara yang maju karena bangsanya yang cerdas, bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mau belajar, bangsa yang mau belajar tentu akan mementingkan adanya pendidikan, dan jantung pendidikan adalah perpustakaan. Perpustakaan tanpa adanya pustakawan tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya, karena perpustakaan tanpa pustakawan bagaikan jantung yang tak berdetak.

Komentar

Popular Posts

Ketika Tren Ramadan dan Lebaran Menjadi Bumerang

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan

Tak Apa Jika Pencapaian Kita Berbeda