Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

Bagaimana Aku Memulai Menulis?

Sejak kecil aku sangat suka berimajinasi. Ya, boleh dibilang suka berkhayal. AKu sering bermain peran, meski hanya sendirian. Pernah aku meminjam handuk kecil milik Emak, yang biasa beliau gunkan untuk daleman mukena, biar gak langsung basah mengenai mukena yang berakibat hitam-hitam [sebut saja dogkremak, hihi]. Lalu aku menyulapnya menjadi rambut panjang terurai bak seorang putri raja, dan mulainya sebuah skenario kehidupan di sebuah kerjaaan.

Tidak hanya sampai di situ, sebenarnya masih banyak imajinasi-imajinasi yang kumainkan saat masih kecil. Dan itu berlanjut ketika aku sudah menginjak SMP. Imajinasiku bertambah dengan adanya interaksi dengan lelaki. Aku mulai tertarik ketika melihat lelaki gagah yang berparas tampan. Disitu aku mulai berkahayal, bagaimana jika lelaki tampan itu menjadi pacarku. Ahhh...kayaknya bahagia. Begitulah apa yang kukira-kira.

Dari imajinasi itulah aku mulai mengarang sebuah cerita, tentu dengan tokoh si laki-laki tampan itu. Aku membuat sebuah cerita di buku tulis, atau di lembaran kertas HVS bekas. Aku rangkai menjadi sebuah cerita pendek, lalu ku klip sendiri seperti sebuah jilidan buku. Sampai akhirnya teman-temanku tahu, dan mereka mulai membaca karyaku. Berawal dari situ, aku mulai dikenal bahwa aku si pembuat cerpen. Salah satu guru bahasa Indonesia pun merekrutku menjadi anggota mading. Dan aku masih ingat, cerpen pertama yang dimuat di mading sekolahku berjudul " Bus, Pembawa Cinta". Hal receh memang, tapi waktu itu bagiku sebuah apresiasi yang luar biasa. Dan di tingkat SMP itu pun aku lumayan menonjol di kelas. 

Namun, kejayaanku di SMP sirnalah sudah saat aku mulai menginjak SMA. di tingkat ini aku benar-benar hanya seorang apalah-apalah. Pamorku benar-benar redup. Aku yang sebelumnya selalu menduduki peringkat pertama, aku yang selalu menulis cerpen, aku yang menjadi orang penting, mendadak hanya menjadi sebuah cerita fiksi belaka. Aku sudah melupakan menulis cerpen. 

Beberapa tahun kemudian, hampir lama setelah  runtuhnya kejayaan itu, aku mulai menulis lagi, tepatnmya saat aku sudah menikah dan punya anak. Di Facebook, aku melihat ada sebuah lomba menulis cerpen dan karya yang terpilih akan dibukukan. Aku pun mencoba, dan yaaaaaa, karyaku terpilih. Mulai dari situ, aku mulai menulis buku. Aku mulai tahu bagaimana sebuah karya itu bisa diterbitkan. Akhirnya, sekarang aku bisa memiliki 22 karya buku. Dan mengikuti beberapa komunitas kepenulisan.

Mau tau karya-karya ku?

Tunggu postinganku yaa....

Teman-teman bisa follow IG @ririn_kada atau Facebook Ririn Kada

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan