Perkara di Balik "Semampunya"

Gambar
Suatu hari, aku diundang ke sebuah acara makan bersama. Konsepnya sederhana dan terkesan santai: setiap orang diminta membawa snack untuk dibagi-bagi, sesuai kemampuan masing-masing. Saat mendengar itu, aku merasa cukup lega. Tidak ada tekanan untuk membawa sesuatu yang spesial atau mewah. Jadi, aku memutuskan membawa makanan yang sederhana, ya menurutku cukup layak untuk dibagi lah. Namun, semua itu berubah ketika acara dimulai. Meja yang seharusnya menjadi tempat snack sederhana justru dipenuhi dengan berbagai makanan yang luar biasa: kue-kue dengan dekorasi cantik, snack dalam kemasan mahal, hingga hidangan yang lebih cocok untuk acara formal. Sementara itu, makanan yang kubawa terlihat begitu sederhana di antara semua itu. Aku mulai merasa tidak nyaman. Seolah-olah, keberadaanku dan apa yang kubawa tidak cukup untuk momen ini. Perasaan insecure itu muncul begitu saja. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku terlalu cuek? Apakah aku salah menilai acara ini? Ap...

Bagaimana Aku Memulai Menulis?

Sejak kecil aku sangat suka berimajinasi. Ya, boleh dibilang suka berkhayal. AKu sering bermain peran, meski hanya sendirian. Pernah aku meminjam handuk kecil milik Emak, yang biasa beliau gunkan untuk daleman mukena, biar gak langsung basah mengenai mukena yang berakibat hitam-hitam [sebut saja dogkremak, hihi]. Lalu aku menyulapnya menjadi rambut panjang terurai bak seorang putri raja, dan mulainya sebuah skenario kehidupan di sebuah kerjaaan.

Tidak hanya sampai di situ, sebenarnya masih banyak imajinasi-imajinasi yang kumainkan saat masih kecil. Dan itu berlanjut ketika aku sudah menginjak SMP. Imajinasiku bertambah dengan adanya interaksi dengan lelaki. Aku mulai tertarik ketika melihat lelaki gagah yang berparas tampan. Disitu aku mulai berkahayal, bagaimana jika lelaki tampan itu menjadi pacarku. Ahhh...kayaknya bahagia. Begitulah apa yang kukira-kira.

Dari imajinasi itulah aku mulai mengarang sebuah cerita, tentu dengan tokoh si laki-laki tampan itu. Aku membuat sebuah cerita di buku tulis, atau di lembaran kertas HVS bekas. Aku rangkai menjadi sebuah cerita pendek, lalu ku klip sendiri seperti sebuah jilidan buku. Sampai akhirnya teman-temanku tahu, dan mereka mulai membaca karyaku. Berawal dari situ, aku mulai dikenal bahwa aku si pembuat cerpen. Salah satu guru bahasa Indonesia pun merekrutku menjadi anggota mading. Dan aku masih ingat, cerpen pertama yang dimuat di mading sekolahku berjudul " Bus, Pembawa Cinta". Hal receh memang, tapi waktu itu bagiku sebuah apresiasi yang luar biasa. Dan di tingkat SMP itu pun aku lumayan menonjol di kelas. 

Namun, kejayaanku di SMP sirnalah sudah saat aku mulai menginjak SMA. di tingkat ini aku benar-benar hanya seorang apalah-apalah. Pamorku benar-benar redup. Aku yang sebelumnya selalu menduduki peringkat pertama, aku yang selalu menulis cerpen, aku yang menjadi orang penting, mendadak hanya menjadi sebuah cerita fiksi belaka. Aku sudah melupakan menulis cerpen. 

Beberapa tahun kemudian, hampir lama setelah  runtuhnya kejayaan itu, aku mulai menulis lagi, tepatnmya saat aku sudah menikah dan punya anak. Di Facebook, aku melihat ada sebuah lomba menulis cerpen dan karya yang terpilih akan dibukukan. Aku pun mencoba, dan yaaaaaa, karyaku terpilih. Mulai dari situ, aku mulai menulis buku. Aku mulai tahu bagaimana sebuah karya itu bisa diterbitkan. Akhirnya, sekarang aku bisa memiliki 22 karya buku. Dan mengikuti beberapa komunitas kepenulisan.

Mau tau karya-karya ku?

Tunggu postinganku yaa....

Teman-teman bisa follow IG @ririn_kada atau Facebook Ririn Kada

Komentar

Popular Posts

Ketika Tren Ramadan dan Lebaran Menjadi Bumerang

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan

Tak Apa Jika Pencapaian Kita Berbeda