Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

Kuat Karena Qoute

Emang, jadi penulis dapat apa?
Emang, jadi penulis bisa kaya?

Pernah nggak denger ada komentar seperti itu?
Kalau yang berkomentar itu orang yang gak dikenal mah santuy aja, tapi yang paling miris kalau komentar miring itu muncul dari mulut orang terdekat. Po ra ambyarrr. Huaahuaaa...

Tapi kembali lagi ke tujuan awal kita. Tentang niat seperti yang pernah aku tulis sebelumnya di sini

Banyaknya rintangan yang menghadang, hempas kan saja. Tidak usah pedulikan nyiyiran. Kalau dibilang jadi penulis biar kaya? Iya dia pasti akan kaya. Kaya ilmu, kaya relasi, kaya wawasan. Iya kan?? 💞

Karena aku yakin, saat kita melakukan hal yang baik pasti akan mendapatkan respon baik pula. So, teruslah menulis, teruslah berkarya tanpa peduli seberapa besar penghargaan yang akan kau terima.

Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan