Terlalu Sibuk Melihat Aib Orang Lain Sampai Lupa Memperbaiki Diri

Gambar
  Ada kalanya lidah lebih cepat daripada akal. Baru seseorang selesai bercerita, kita sudah ikut menimpali. Baru melihat kekurangan orang lain, kita sudah punya komentar. Kadang dalam bentuk keluhan, kadang candaan, kadang pula dibungkus kalimat sederhana: “Aku sebenarnya cuma cerita, kok.” Padahal, tidak semua cerita perlu disampaikan. Dalam Islam, membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mendengarnya disebut sebagai ghibah. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika mendengarnya.” (HR. Muslim). Yang membuat ghibah terasa berbahaya adalah karena ia sering datang tanpa terasa sebagai dosa. Kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Hanya ngobrol. Hanya curhat. Hanya ingin berbagi pengalaman. Hanya ingin mencari teman yang memahami perasaan kita. Tetapi bisa jadi, di balik “hanya” itu, ada hati orang lain yang sedang kita buka aibnya. Lebih menyedihkan lagi, keti...

Gara-Gara Main Kuda-Kudaan

Beberapa bulan terakhir ini kami dibuat resah dengan insiden hilangnya KK / kartu keluarga kami. Meski barang sepele namun KK adalah termasuk salah satu arsip pribadi yang sangat penting, bahkan menurut kami itu termasuk dalam kategori barang berharga. Bagaimana tidak? untuk mendapatkan selembar kertas itu kami harus meluangkan waktu berhari-hari, dan tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tapi juga tidak banyak banget sih, hehe.

Kerisauan itu semakin meraja lela ketika kami membayangkan jika harus mengurus pembuatan KK baru lagi, betapa banyak hal yang akan kami buang lagi, urusan izin kerja yang belum tentu di acc, urusan dengan polisi untuk mengurus berita kehilangan, dan tentu akan membutuhkan biaya lagi, itu belum dihitung biaya uang bensin dan uang makannya karena sudah dipastikan dalam mengurus tetek bengeknya tak cukup 1 jam.

Segala penjuru pelosok rumah sudah kami geledahi. Setiap lorong-lorong sempit kami telusuri, kolong-kolong yang terselubung pun kami jelajahi, hehe Lebay ya. Namun tak ada tanda-tanda keberadaan kertas berwarna biru muda itu. Kami pun sudah mengingat-ingat kapan terakhir kami menyentuh dan meletakkan barang itu. Doa pun sudah kami panjatkan kepada Allah SWT, agar segera ditemukan KK tersebut. Kami yakin barang itu hanya berada di rumah, dan sepertinya terselip di suatu tempat yang belum kami lihat. Kalau orang tua bilang sih, "mungkin lagi disembunyiin syetan," hihiiii rada merinding ya. Tapi, apa setan butuh KK? hahaha

Suatu pagi, disaat kami sedang sibuk persiapan berangkat kerja, si anak merengek-rengek minta main sama ayahnya. Tentu rasa gusar mulai menghampiri. Anak kami, Salman, langsung menggeleyot ke punggung suami. 

"Ayo, Yah main kuda-kudaan, ayo, herrrrrrr" ucapnya seakan sedang menunggang kuda beneran. Suami pun mau nggak mau akhirnya menuruti kemauan si dia. Saat beraksi menjadi kuda, tiba-tiba suami melirik ke sebuah rak buku yang dilaluinya. Tepat sejajar dengan pandangan mata, ada selembar kertas bersampul plastik terselip diantara buku-buku. Setelah diamati lebih dalam, ternyata itu ada Kartu Keluarga yang selama ini kami cari.

Alhamdulillah, rasa syukur yang tiada tara melantun di pagi yang syahdu itu. Kalau saja Salman tidak minta main kuda-kudaaan mungkin keberadaan KK itu masih menghantui kami. Dan, ini memang skenario kecil dari Allah, bahwa semua yang ada di dunia ini tidak lain dan tidak bukan sudah diatur oleh Allah SWT.

Komentar

Posting Komentar

Popular Posts

Aku dan 2021

Perkara di Balik "Semampunya"

The Power of Qadarullah: Belajar Tenang Saat Takdir Tidak Sejalan Harapan